Showing posts with label CERITAKU. Show all posts
Showing posts with label CERITAKU. Show all posts

Monday, November 10, 2025

QRIS: SEBUAH PERJALANAN SPIRITUAL


Bertugas di tempat yang jauh dari rumah banyak suka dukanya. Hal yang ngga enak ngga usah diceritakan ya...., kita cerita yang enak aja. Apa enaknya? "Jadi nambah saudara, nambah keluarga, nambah pengalaman" itu jawaban template banget ya. Tapi itu bener si. Ada jawaban lain yang enak juga menurut saya yaitu kalau ada tugas dinas rapat di Purwokerto. Kenapa enak? secara rumah di Purwokerto, bisa berangkat siangan, ngga buru-buru, biasanya maksimal jam 5.20 sudah berangkat. Kalau ada tugas dinas bisa berangkat sesuai jam undangan, lebih enak lagi dapat SPPD yang bisa ditukar pertalite + ethanol

Nah Jumat yang lalu saya ada undangan mendampingi murid dan rekan guru yang berhasil membimbing dan lolos FTBI sampai di tingkat provinsi. Namanya Rifka, berhasil menjadi juara 1 Nulis dan Membaca Huruf Jawa. Sebuah lomba yang mungkin saat sekarang jarang banget diminati oleh anak SMP, apalagi kelas IX. Kepala Sekolahnya saja sudah lupa huruf jawab ada berapa jumlahnya. Tapi dengan bimbingan guru muda Mukti Manggalih, Rifka berhasil lolos sampai tingkat Provinsi.

Acara penerimaan hadiah berbagai lomba yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas ini berjalan dengan lancar. Tidak ada hal yang istimewa. Semua peserta mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan dan juga piala dari Kepala Dinas Pendidikan. Apresiasi dan juga penguatan diberikan kepada semua murid untuk dapat terus meningkatkan prestasinya. Acara selesai saya lanjut ke Sekolah pangkalan. Jam 13.00 wib saya ada janji dengan Panitia HUT SMP Negeri 1 Gumelar untuk mengadakan rapat dengan alumni. Ini janji saya ke pak Sekdin juga, di hari Ulang Tahun Sekolah akan ada pembentukan IKATAN ALUMNI.

Pukul 10.30 wib saya meluncur pulang dari Dinas Pendidikan. Saya pulang karena berencana membawa mengambil mobil di bengkel yang kemarin saya titipkan untuk di servis. Siang ini servis mobil selesai janji Kang Bengkel. Tadinya kepingin juga naik NMax ke Gumelar, tapi cuaca akhir-akhir ini yang hampir setiap sore hujan memaksa untuk naik mobil. Lebih aman dan juga nyaman tentunya.

Tidak ada 10 menit saya sudah sampai di bengkel tempat saya menservis kendaraan. Setelah basa-basi dan mencoba kendaraan saya langsung pamitan ke Kang Bengkel. Cuaca sangat panas, ini semakin menguatkan dugaan dan keyakinan saya bahwa sore ini pulang dari Gumelar bakalan hujan.

Menyusuri jalanan Purwokerto - Ajibarang di siang hari seperti ini biasa saja. Jalan yang dikenal sebagai jalur yang paling padat keluar Purwokerto. Mungkin karena mengarah ke exit tol Brebes dan ke Jakarta. Belum lagi perbaikan lubang jalan yang hampir setiap hari membuat jalur ini padat merayap. Ini aku nikmati setiap hari sambil mendengarkan radio Linggamas, entah itu murotal ataupun kajian kibar asatidz sunnah Banyumas dan Nasional.

Setelah sampai di Ajibarang, saya mengambil arah ke kiri menuju Gumelar via Kracak. Disini signal radio sudah mulai melemah sehingga mulai banyak noise. Kadang saya terus berpindah ke pemutar mp4, entah itu mendengarkan Iwan Fals atau Saleem Iklim. Tapi ini Jumat.... jadi saya mempertahankan mendengarkan kajian meskipun banyak noise.

Memasuki Cihonje saya melirik jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 wib. Radio Linggamas pun mengabarkan sekarang memasuki saat Sholat Jumat. Orang Paguyangan bilang "wis manjing". Saya belum melihat Masjid yang tepat dan strategis untuk mengikuti sholat Jumat. Saya berpikir biasanya kebanyakan Masjid di wilayah desa berpatokan bahwa mulai Sholat Jumat itu jam 12.00 wib. Saya terus memacu kendaraan sambil mencari masjid yang tepat.

Menurunkan kaca mobil di Cirebah saya mendengar sayup-sayup suara khotbah dari sebuah masjid yang cukup besar. Masjid 2 lantai dengan nama Nurul Iman. Posisinya lumayan mudah dijangkau. Parkiran pun teduh di bawah pohon rambutan. Parkiran yang tepat disaat matahari tepat ada di atas ubun-ubun kepala. Setelah memarkir kendaraan, saya bergegas dengan berlari kecil menuju Masjid.

Masjid besar dengan toilet dan juga tempat wudhu yang nyaman. Setelah mengambil air wudhu, saya langsung masuk ke dalam masjid. Saya agak tertegun... "Kok baru beberapa orang yang hadir ya?" gumam saya dalam hati. Ah... sudah... sholat aja, sudah khotbah... hilang nanti pahala Jumat.

Setelah selesai sholat saya duduk tenang mendengarkan khotbah. Tapi kok aneh... posisi pembicara berdiri di atas mimbar. Mimbarnya naik tangga sekitar 2 meter. Mungkin agar jama'ah yang ada di lantai 2 juga dapat melihat khotib. Tapi bukan ini keanehannya, Khotib gaya bicaranya santai layaknya sedang pengajian biasa. Ngajarin tata cara untuk melakukan sholat sakartul maut, dengan berbagai penjelasan kaifiyahnya. Semestinya seorang Khotib Sholat Jumat gaya bicaranya harus bersemangat. 

عَÙ†ْ جَابِرِ بْÙ†ِ عَبْدِ اللَّÙ‡ِ Ù‚َالَ:

Ùƒَانَ رَسُولُ اللَّÙ‡ِ صلى الله عليه وسلم Ø¥ِذَا Ø®َØ·َبَ احْÙ…َرَّتْ عَÙŠْÙ†َاهُ Ùˆَعَلاَ صَÙˆْتُÙ‡ُ Ùˆَاشْتَدَّ غَضَبُÙ‡ُ Ø­َتَّÙ‰ ÙƒَØ£َÙ†َّÙ‡ُ Ù…ُÙ†ْذِرُ جَÙŠْØ´ٍ ÙŠَÙ‚ُولُ: «ØµَبَّØ­َÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙ…َسَّاكُÙ…ْ»

An Abi Jabir bin Abdillah qala: Kana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam idza khathaba-hmarrot 'ainahu wa 'ala shautuhu wa-shtadda ghadhabuhu hattaa ka'annahu mundziru jaisyin yaqulu: "Shabbahakum wa massakum".
Terjemahan:
Dari Jabir bin Abdullah RA, dia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya memuncak, seakan-akan beliau adalah panglima perang yang sedang memperingatkan pasukannya (akan datangnya musuh di pagi atau sore hari)."

(Hadis Riwayat Muslim, Kitab Al-Jumu'ah, Bab: Dryarah al-khutbah wa shifatuha).

Dan ini kemudian membuat saya menyangka "Ini kayaknya pengajian sebelum Sholat Jumat". Tapi ini sudah jam 12 lebih. Masa iya si Sholat Jumat belum dimulai, padahal sudah jam 12 lebih. Di saat saya bertanya-tanya dalam hati, tiba-tiba si Pembicara mengajak semua audience untuk membaca Al Fatihah sebanyak 4 kali layaknya acara tahlilan. Dan setelah itu Pembicara langsung menutup dengan salam.

Jegleg..... Benar saja ternyata setelah itu Muadzin langsung mengumandangkan Azan Jumat yang pertama. Ah.... ternyata saya tidak terlambat mengikuti Sholat Jumat. Hanya memilih di masjid yang berbeda dengan biasanya. Ini malah lengkap banyak pahala karena dilengkapi dengan pengajian terlebih dahulu. Cuma... apakah ini sesuai tuntunan Rasul?

Saya pun khusyu mengikuti ritual sholat jumat seperti biasa. Mungkin karena terlalu lama duduk di siang hari membuat perut saya meronta-ronta. Cacing-cacing protes merasa didholimi karena belum mendapat jatah MBS (Makanan Bergizi dan Sehat). Alhamdulillah sholat tidak terlalu panjang. Padahal semestinya yang dipanjangkan adalah Sholatnya bukan Khotbahnya.

Selesai sholat saya berlari kecil menuju kendaraan. Mobil segera aku stater karena badan sudah mulai gemeter. Masih ada 15 menit lagi sebelum waktu Rapat dengan Panitia dan Alumni. 10 menit saya alokasikan untuk makan dan 5 menit untuk perjalanan. Pas.....

Sebelum sampai di sekolah saya mampir ke Rumah Makan Padang. Di samping belum pernah nyoba makan di sini, menurutku ini makan dengan sajian tercepat yang bisa saya lakukan dibandingkan memilih Sate Pak Wasim yang menggoda. Saya langsung memesan Nasi Rendang dan juga Es Teh. Simpel, cepat tapi tetap nikmat.

Sepertinya tidak ada 5 menit saya melahap hidangan nasi rendang. Enak juga si untuk satu porsi nasi rendang lengkap yang berada jauh di luar Purwokerto. Dan selanjutnya tiba saat untuk "bayar bayar" (dibaca dengan nada dari Vlogger Nex Carlos).

Cuci tangan dan mengelap sisa kuah rendang yang nempel di bibir. Selanjutnya mendekat ke si Uda Penjual Nasi Padang. "Berapa Uda?" sambil merogoh dompet dan mengambil dari saku belakang celana. "Enam Belas Ribu pak"... kata si Uda.  "Worth it lah..." dalam hati saya. 

Dan begitu membuka dompet saya kaget. KOSONGGGG ngga ada uang satu rupiahpun. Yang ada Kartu Nama siapa entah... dan juga kartu-kartu pribadi.

Malu? iyalah.... Tapi yang asyik si Uda langsung bilang. "Ada QRIS kok pak" si Uda menunjuk stiker di depanya. Alhamdulillah.... selamat.... tadinya berencana mau ngutang dengan meninggalkan KTP atau sendal jepit yang tek pakai, atau telpon teman guru suruh mbayarin...


#QRIS

#spiritualisme

#nasipadang

#nasirendang 

 
 

Saturday, July 5, 2025

Merangkai Langkah, Menenun Makna: Catatan Awal dari Ruang Kerja Kepala Sekolah



Selalu ada momen hening dalam ruang kerja saya, ketika lembar-lembar perencanaan menumpuk rapi di meja, dan suara pelan anak-anak dari kelas sebelah terdengar seperti nyanyian harapan. Di sanalah saya sering merenung: apa arti sesungguhnya dari “pendidikan bermutu untuk semua”?

Satu bulan terakhir ini, saya belajar kembali bahwa mutu bukan sekadar angka di rapor atau pencapaian indikator. Mutu adalah napas kolektif—usaha bersama antara guru yang tekun menyusun modul ajar, tenaga kependidikan yang setia menjaga ritme harian sekolah, hingga siswa yang terus bertumbuh dalam semesta belajarnya.

Dari menyusun RKS yang lebih partisipatif hingga mendampingi guru melalui supervisi yang lebih humanis dan membimbing—semuanya adalah bagian dari proses yang tidak instan, tapi bermakna. Di setiap kunjungan kelas, saya melihat bukan hanya kurikulum berjalan, tapi juga relasi yang tumbuh: antara guru dan murid, antara nilai dan praktik.

Saya percaya bahwa tugas kepala sekolah hari ini bukan hanya mengelola, tapi juga menghidupkan kembali rasa percaya bahwa setiap aktor di sekolah punya potensi untuk bertumbuh—dan bahwa pendidikan yang bermutu hanya akan tercapai jika kita belajar untuk tumbuh bersama.

Ini baru awal. Tapi saya bersyukur karena langkah kecil ini terasa hangat. Dan semoga dari sini, kita bisa terus merajut ekosistem sekolah yang tidak hanya cerdas, tapi juga peduli, inklusif, dan penuh makna.


📖 Mendampingi, Bukan Mengawasi: Supervisi yang Menumbuhkan


Ada satu hal yang saya pelajari dari bangku panjang di ruang guru: percakapan yang tulus lebih punya daya ubah dibanding seribu lembar instrumen supervisi.


Beberapa waktu lalu, saya duduk berdua dengan seorang guru muda setelah observasi kelas. Bukan untuk menilai, tapi untuk bertanya, “Bagaimana perasaanmu mengajar tadi?” Dari pertanyaan sederhana itu, mengalir cerita: tentang siswa yang sulit fokus, tentang strategi bertanya yang masih perlu dicoba, dan tentang harapan yang belum padam.

Supervisi bukan lagi soal menilai, tapi membimbing. Memberi ruang bagi guru untuk merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Saya belajar menggunakan pendekatan coaching kecil-kecilan: bukan menggurui, tapi bertumbuh bersama. Terkadang, satu sesi obrolan ringan sambil menyeruput kopi di sudut ruang TU bisa jauh lebih bermakna ketimbang rapat formal tiga jam.

Dan ketika saya mulai menyusun penugasan tambahan bagi guru dan tendik, saya memilih untuk memulainya dari satu hal: mendengar. Saya undang mereka duduk bersama, lalu bertanya, “Apa yang membuatmu merasa berdaya?” Ternyata ketika seseorang merasa perannya bermakna, maka pekerjaan pun menjadi bagian dari misi, bukan sekadar rutinitas.


👣 Coaching di Tengah Deru Jam Pelajaran


Suatu hari, saya berdiri di depan kelas, bukan untuk mengajar, tapi untuk menyimak. Seorang guru senior sedang membimbing diskusi kelompok tentang nilai-nilai dalam Pancasila. Saya duduk di bangku paling belakang, mencatat, bukan untuk menilai, tapi untuk belajar.


Setelah bel berbunyi, saya menghampirinya dan berkata, “Keren sekali tadi cara Ibu membuka diskusi… tapi saya penasaran, kalau siswa yang pendiam itu dilibatkan juga, apa yang mungkin terjadi?” Pertanyaan itu memicu percakapan 15 menit yang lebih berharga dari rapor mana pun.

Praktik coaching di kelas bukan soal tahu lebih banyak—tapi soal memantik refleksi. Saya memilih pendekatan dialog: bertanya, mendengar, lalu merancang langkah-langkah kecil bersama. Kadang hanya berupa tantangan ringan, seperti, “Minggu depan, mau coba ubah posisi tempat duduk agar siswa lebih aktif?” Dan minggu depannya, saya datang lagi, menyimak lagi.

Menjadi kepala sekolah berarti punya privilege melihat tumbuhnya perubahan kecil: strategi bertanya yang lebih terbuka, catatan harian guru yang lebih reflektif, hingga kelas-kelas yang mulai menyesuaikan dengan kebutuhan belajar murid, bukan sekadar target kurikulum.

Dan setiap perubahan itu, sekecil apa pun, selalu saya dokumentasikan. Bukan untuk laporan formal semata, tapi sebagai pengingat bahwa perubahan sejati lahir dari relasi. Dari obrolan-obrolan santai di ruang kelas, dari tawa ringan selepas coaching, dari rasa saling percaya bahwa kita semua, guru dan kepala sekolah, sedang sama-sama belajar.


🌿 Belajar Kembali Menjadi Pembelajar: Refleksi Kepemimpinan


Saya menyadari satu hal belakangan ini—bahwa di balik semua lembar RKS, SK, dan laporan supervisi, saya adalah seorang murid juga. Murid dari situasi. Murid dari suara guru yang berbisik pelan, “Saya butuh waktu untuk belajar ini.” Murid dari anak-anak yang tatapannya menunggu ruang kelas yang lebih ramah.


Saat menyusun learning plan pribadi, saya mencoba jujur dengan diri sendiri: bagian mana dari kepemimpinan saya yang masih kaku? Di mana saya terlalu administratif? Kapan saya lupa bahwa pemimpin belajar harus mau dibimbing, sebelum membimbing?

Mengikuti pelatihan, membaca refleksi kepala sekolah lain, dan berdiskusi di Komunitas Guru Belajar membuka mata saya: menjadi pemimpin pembelajaran berarti hadir—secara utuh. Bukan hanya saat rapat penting, tetapi juga saat guru sedang frustrasi memilih strategi diferensiasi. Hadir secara utuh berarti tidak takut berkata, “Saya belum tahu, mari kita cari tahu bersama.”

Dan dari situ saya mulai menulis ulang makna keberhasilan. Dulu keberhasilan berarti angka meningkat. Kini keberhasilan berarti: ada guru yang tersenyum karena merasa didampingi, ada siswa yang pulang dengan cerita bahwa gurunya mendengarkan dia hari ini, atau ada tendik yang merasa pekerjaannya dihargai bukan hanya sebagai pelengkap.

Saya kira, menjadi kepala sekolah yang berdampak bukan tentang “menyelesaikan tugas.” Tapi tentang menciptakan ruang. Ruang untuk bertumbuh. Ruang untuk saling percaya. Ruang untuk belajar seumur hidup.


📌 Penutup: Kita Semua Sedang Belajar


Saya tidak tahu apakah saya sudah menjadi kepala sekolah yang “sempurna”—tapi saya tahu, setiap hari saya berusaha menjadi lebih hadir.


Hadir untuk guru yang ingin didengar. Untuk murid yang ingin dimengerti. Untuk setiap lembar perencanaan yang sejatinya bukan hanya soal angka, tapi tentang harapan.

Menjadi pemimpin pembelajaran bukan tentang menjadi yang paling tahu. Tapi tentang menjadi yang paling mau: mau mendengar, mau berubah, mau tumbuh, dan mau berjalan bersama.

Dan saya percaya—dari ruang kelas kecil di desa sampai lorong-lorong sekolah di kota, kita semua sedang belajar: saling menemani, saling mengingatkan, dan saling mempercayai bahwa sekolah bukanlah tempat untuk sempurna, melainkan ruang untuk menjadi manusia yang terus bertumbuh.

Semoga catatan kecil ini bisa jadi pengingat, bahwa kita tidak sendiri. Bahwa langkah-langkah kecil yang kita pilih hari ini, bisa jadi cahaya bagi banyak masa depan yang kini tengah duduk di bangku kelas, menggenggam mimpi-mimpinya.


Tuesday, May 13, 2025

EVOLUSI KEBIASAAN MAKAN SOP


Masa kecil selalu dipenuhi dengan kebiasaan yang terasa begitu biasa, tapi ternyata menyimpan makna yang mendalam ketika dikenang kembali. Salah satu rutinitas yang masih jelas dalam ingatanku adalah bagaimana Ibu selalu menyiapkan sop sebagai bagian utama dari setiap santapan. Namun, bukan seperti yang sering kulihat di restoran atau rumah makan. Di rumah, setiap ibu masak sop selalu bilang "Ayo tuang sopnya langsung ke nasi ya! biar seger..."

Bagi Ibu, tujuan dari mencampur sop dengan nasi bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi juga strategi agar aku makan lebih lahap. Dengan kuah yang meresap ke nasi dan rasa gurih dari lauk yang berpadu sempurna, tidak ada alasan untuk menolak suapan demi suapan. “Biar cepat gemuk,” kata Ibu dengan senyum khasnya setiap kali melihatku menikmati makanan dengan lahap.

Saat itu, tidak ada pilihan lain. Aku terbiasa dengan konsep bahwa sop adalah bagian dari makanan utama, bukan sajian yang dinikmati terpisah. Rasa ayam yang bercampur dengan sayuran, gurihnya kuah yang mengalir memenuhi nasi, dan bahkan potongan kentang yang terasa lebih lembut ketika melebur dengan semua unsur lainnya—semuanya menjadi satu dalam harmoni piring makan masa kecilku.

Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini berubah perlahan tanpa disadari. Kini, ketika menyantap sop, aku lebih memilih untuk menuangkannya dalam mangkuk terpisah. Alasannya sederhana: ingin lebih menikmati keotentikan rasa dari setiap bahan yang ada di dalamnya.

Ada kepuasan tersendiri dalam menyendok kuah panas yang murni tanpa bercampur dengan nasi. Setiap potongan daging, sayur, dan kentang memiliki rasa dan tekstur yang lebih jelas. Bahkan, aku mulai menyadari bahwa setiap jenis sop memiliki karakteristik tersendiri, ada yang lebih ringan dan segar, ada yang lebih pekat dan kaya rempah.

Selain itu, di usia 50 tahun, pola makan menjadi bagian yang lebih diperhatikan. Dulu, ketika masih kecil, tujuan makan adalah untuk tumbuh sehat dan berenergi. Tapi kini, keseimbangan asupan makanan menjadi pertimbangan utama. Mengurangi konsumsi nasi atau karbohidrat berlebih menjadi salah satu cara untuk menjaga berat badan agar tidak mudah naik. Dengan memisahkan sop dari nasi, aku bisa lebih mengontrol jumlah karbohidrat yang dikonsumsi tanpa kehilangan kenikmatan dari setiap sendokan kuah yang kaya rasa.

Membiasakan diri makan dengan pola yang lebih seimbang juga membuatku lebih sadar akan rasa dan tekstur makanan. Sop yang dulu hanya dianggap sebagai pelengkap nasi kini punya tempat tersendiri dalam sajian, memberikan kesempatan bagi lidah untuk benar-benar merasakan tiap bahan yang dimasak dengan penuh perhatian.

Meski begitu, kenangan tentang Ibu dan piring sop yang penuh masih tetap tersimpan hangat. Kadang, ketika kembali ke rumah, aku menemukan diriku kembali ke kebiasaan lama—mencampur sop dengan nasi seperti dulu. Bukan karena ingin kembali ke masa kecil, tetapi karena ingin menghidupkan kembali kehangatan dari setiap suapan yang pernah menjadi bagian dari cinta seorang Ibu.

Dan mungkin, dalam setiap perubahan cara makan, ada cerita dan makna yang lebih dalam dari sekadar piring dan mangkuk.

Bagaimana kebiasaan makan sopmu? Apakah kamu masih mencampurnya dengan nasi, atau sudah beralih menikmati kuahnya secara terpisah? 😉



Wednesday, January 22, 2025

TANDA TANGAN SULTAN

 

Namanya Sultanzain Antaresmarfiditya Agung. Sekarang berada di kelas VIII-I, sebenarnya saya belum pernah ngajar di kelasnya. Bahkan dari kelas VII. Tapi saya dan Sultan cukup dekat dan akrab. Salah satunya karena Sultan ini termasuk anak yang sangat rajin ke Masjid. Meskipun dia pernah salah sangka dikira saya ngajar Pendidikan Agama Islam. Mungkin karena berjenggot.

Sultan terkenal paling supel dengan semua guru. Tidak hanya supel tapi selalu berani tampil. Entah kalau dibidang akademik, saya tidak tau persis sebab belum pernah jadi guru mapelnya. Keberanian untuk tampil dan juga menyapa guru ini yang membuat Sultan terkenal di mata guru. Meskipun berani tapi tetap menjaga sopan santun.

Selasa, 21 Januari kemarin kami mendapat kunjungan dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Bapak Prof. Atip Latipulhayat, SH., LL.M., Ph.D. berkenan mengunjungi SMP Negeri 2 Purwokerto dalam lawatan kunjungan beliau di Banyumas. Acara di SMP Negeri 2 Purwokerto adalah untuk Senam bersama anak, yaitu Senam Anak Indonesia Hebat. 

Ada yang menarik dari Sultan berhubungan dengan kunjungan Pak Wamen. Pagi hari saat saya melakukan checking persiapan panggung, Sultan mendekati saya dengan membawa buku pendamping Pendidikan Pancasila. Sambil membuka buku halaman paling depan Sultan ngomong "Nanti saya mau minta tanda tangan pak Wakil Menteri boleh ngga ya pak?"

Sedikit kaget saya nanya balik "Kamu tau ngga di halaman itu ada nama siapa?"

Sambil memperhatikan kembali halaman pertama buku yang Sultan pegang kembali anak itu berteriak kecil "Oh iya ada nama pak Waryanto ternyata...."

Saya cuma tersenyum. "Kalau gitu saya minta tanda tangan pak Waryanto ya" lanjut Sultan sambil menyodorkan buku ke Saya. Kemudian saya bubuhkan tanda tangan di dekat nama Saya yang tercantum dalam buku.

Kemudian saya melanjutkan aktivitas untuk mempersiapkan kehadiran pak Wamen di Sekolah. Menyiapkan panggung, menyusun acara dan berkoordinasi dengan pihak protokol Wakil Menteri untuk memastikan urutan kegiatan sesuai dengan ketentuan protokol. Sampai akhirnya saya kemudian memandu kunjungan pak Wakil Menteri dimana kegiatan utamanya adalah Senam Anak Indonesia Hebat bersama beliau dan rombongan.

Setelah acara senam selesai dilanjut dengan sedikit sambutan dan motivasi dari pak Wamen kepada semua Siswa yang mengikuti kegiatan bersama. Dimeriahkan juga dengan pertanyaan berhadiah dari pak Wamen kepada Siswa. Setelah selesai acara tersebut kemudian saya mempersilahkan Rombongan pak Wamen untuk turun dari panggung dan akan melanjutkan kunjungan berikut ke SMA Negeri 1 Purwokerto.

Nah yang mengejutkan sebelum sampai keluar lapangan rombongan pak Wamen dihentikan oleh Sultan yang ternyata meminta tanda tangan pak Wamen. Saya kaget, tapi karena posisi lumayan jauh dan masih mengkondisikan peserta senam saya tidak bisa mendekat. Alhamdulillah permintaan Sultan dipenuhi oleh pak Wamen. Bahkan kemudian pak Wamen sempat juga ngobrol dengan beberapa anak yang lain.


Dalam hati saya bergumam, Saya beberapa kali menyusun urutan acara hari ini dan beberapa kali mengalami perubahan karena tidak ada izin dari protokol. Dan saya takut untuk protes atau meminta dipenuhi meskipun sedikit saja usulan dari saya. Saya takut pihak protokol marah, saya takut nanti begini... nanti jadi begitu... banyak banget pertimbangan saya.

Tapi beda dengan Sultan. Punya tekad yang kuat untuk dapat meraih apa yang diinginkan tanpa berpikir beban yang lain. 

Dari sini bisa diambil pelajaran bahwa saat kita punya keinginan yang kuat maka lakukan saja... selama hal yang kita inginkan baik dan tidak merugikan orang lain maka lakukanlah...

Semoga masih banyak Sultan lain disana yang tidak hanya memperjuangkan sebuah tanda tangan namun cita-cita lain yang baik dan berdampak. Bukan tentang Tanda Tangan yang Sultan dapat, tapi ini tentang kebulatan tekad.

Sunday, January 28, 2024

SEGAYUNG SUSU

 


"Ayuh maring nggonku Yan..." ajak sahabatku sambil beranjak keluar Kelas.

"Arep ngapa si..." jawabku. "Mengko sore ngarit karo sisan meres susu sapi nang kandang" jawab Sobirin. Tanpa berlama-lama akupun mengiyakan ajakan sahabatku ini. Sobirin adalah salah satu sahabat masa SMEA. Dia salah satu yang paling mengerti kondisiku. Anak kost yang setiap akhir pekan harus pulang karena uang saku pas-pasan kalau tidak mau dikatakan kurang.

Kami berdua keluar dari pelataran SMEA Negeri Purwokerto. Menaiki sepeda motor "Binter Joi" berwarna hitam, melenggang di jalan protokol Purwokerto menuju Karanggude. Rumah sahabatku ini berjarak kira-kira 10 km dari sekolah. Sebuah desa di Kecamatan Karanglewas. Desa di pinggiran kota Purwokerto yang memiliki banyak peternak Sapi Perah.

Seingatku kami selesai sekolah itu jam 13.00 wib. Nggak kayak sekarang yang anak sekolah pulang sudah sore, bahkan sore banget. Era 90an kami begitu menikmati masa-masa sekolah yang memang menyenangkan. Kami menikmati masa perubahan dari mesin analog ke digital. Kami di SMEA belajar mesin ketik dengan metode 10 jari, mata kami ditutup. Tapi kami juga belajar komputer era Under DOS. Pakai disket besar dan kecil yang ketika membuka file gambar muncul di layar patah-patah layaknya mozaik.

Sesampainya di Karanggude kami disambut Ibu. Usianya perkiraanku selisih sekitar 10 - 15 tahun dengan ibuku. "Eh kie Waryanto ya... wis madang urung Yan?" tanya Ibunya Sobirin. "Dereng Yung.... hehehehe..." jawabku malu. "Ya kae madang nang mburi karo Birin" lanjut Ibu sahabatku ini.

Selanjutnya kami ke dapur untuk makan siang. Bagiku sebagai anak kost ini merupakan anugerah. Makan enak... ngga keluar duit... enak lah pokoknya. Apalagi terbayang sore dan besok pagi bisa menikmati susu sapi yang original. Diperas langsung dari Sapi perah milik sahabatku ini. Perbaikan gizi tentunya. Kondisi dimana dirumahpun aku tidak pernah minum susu asli seperti ini.

Sebenarnya sosok Ibu atau aku biasa menyebutnya "biyung" ini memiliki postur hampir sama dengan Nenekku. Bertubuh langsung, tidak terlalu tinggi tetapi sangat cekatan dalam bekerja. Dan tentunya 'grapyak' alias ramah tamah ciri khas orang Banyumas. Tulus ikhlas memberi meski aku hanya tamu tapi tidak dibedakan dengan anaknya sendiri, ini yang membuat jadi berasa dirumah sendiri.

"Ngasar dhisit kae Rin... Yan... ngko gari maring kandang sapi!" suara biyunge nyuruh kami berdua untuk sholat. Tempatnya ngga jauh sebab keluarga Sobirin memiliki "Langgar" atau Mushola di depan rumahnya. Enak ngga perlu jauh-jauh mencari tempat sholat.

Selesai sholat kami berdua lanjut ke kandang sapi. Sobirin mengenakan sepatu boots dan membawa sabit dan juga beberapa peralatan lain. Aku membantu membawa ember yang nantinya dipakai untuk menampung susu Sapi. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Ada di seberang jalan depan rumah dan dibatasi lahan hijau yang ditanami rumput gajah sepakai pakan sapi.

Ada 4 sapi dalam satu kandang yang diberi sekat dengan ukuran sekitar 2,5 meter persegi per sapi. Hal yang dilakukan pertama oleh Sobirin adalah memandikan sapi dan membersihkan kandang dari kotoran sapi yang lumayan banyak. Kotoran sapi itu langsung diarahkan ke tempat pembuangan kotoran yang nantinya diolah menjadi bio gas.

Setelah selesai membersihkan kandang, lanjut dengan memeras susu Sapi. Ini butuh teknik tersendiri dan skill. Susu sapi dibersihkan, benar-benar bersih agar susu tidak terkontaminasi kotoran. Selanjutnya diberi minyak, konon agar sapi merasa nyaman. Emang kalau tidak nyaman gimana? susunya ngga bisa keluar. Bahkan kalau pekerjaan ini digantikan orang barupun, susu yang keluar akan menurun kuantitasnya.

Nah selanjutnya setelah selesai kami kembali ke rumah. Kami berdua kemudian mengemas susu untuk diantar ke Pabrik Milba yang lokasinya tidak jauh dari Balai Desa Karanggude. Sebelumnya biyunge mengambil 1 gayung susu untuk dimasak. "Mau pakai gula jawa apa murni Yan?" tanya biyunge. "Ngagem gula jawa mawon ben dados Susu Coklat Yung" jawabku.

Kami kemudian berdua naik Binter Joi untuk mengantar susu ke Pabrik. Sekalian jalan sore. Susu kemudian diperiksa kualitasnya. Kalau terlalu banyak mengandung air biasanya ditolak. Setelah selesai kami pulang. Dan di rumah biyunge sudah menyediakan 2 gelas susu berwarna coklat. Hangat, manis dan segar. Sama seperti biyunge yang selalu menyambut hangat anak-anaknya. Melayani dengan sepenuh hati. Tidak pilih kasih dan tentunya tanpa pamrih.

Hari ini Ahad, 28 Januari 2024 biyunge dipanggil Allah. Dan aku tau ternyata sudah dikebumikan. Aku belum sempat melihat kembali setelah lama tidak ketemu. Maafkan anakmu yung... belum sempat bertemu lagi... Sungguh aku bersaksi biyunge orang baik... tulus... Swargi langgeng kagem biyunge...

===

Karanggude, 16 Rajab 1445 H

Anakmu...



Wednesday, July 5, 2023

PRE ORDER "JURNAL RASA" MENGASAH MUTIARA 8 PENJURU


Buku ini berisi kumpulan cerita dan puisi yang berisi pesan-pesan positif dan menginspirasi. Tidak hanya itu, dalam buku ini berisi cerita yang penuh perjuangan para penulis untuk menjadi Guru Penggerak. Buku ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi rekan guru yang akan mengikuti Program Guru Penggerak dan dapat meningkatkan minat baca dan literasi.


Apa saja isi buku ini?

Buku ini ditulis kolaborasi antara Pengajar Praktik dan Calon Guru Penggerak dari Kelas 07.053.A2 

Masing-masing memiliki gaya penulisan sendiri yang tentunya menjadi magnet untuk dibaca semua kalangan.

Berikut Daftar Isi dari "Jurnal Rasa":

MENGASAH MUTIARA 8 PENJURU

Karya: Waryanto

CATATAN KECIL PERJALANANKU SEBAGAI CALON GURU PENGGERAK (sebuah refleksi)

Karya: Daryoto

CERITA DIBALIK “DONE” WARNA HIJAU 

Karya: Dini Suswantari

NEKAT JADI MANFAAT

Karya: Farida Utami

CATATAN SEORANG GURU

Karya: Kusriyati

ANTARA AKU, VE, DAN CGP

Karya: Mika Widia Astridani

DITIPU EKSPEKTASI

Karya: Nur Cahyati

MENJADI GURU KEHIDUPAN

Karya: Ricci Alfera Nur Hikmah

HATI-HATI DI JALAN

Karya: Tessari Inayah


Nah tunggu apalagi... ayo pesan buku ini!!!

Silahkan pesan hanya Rp. 35.000,- (belum ongkir)

Pembayaran melalui transfer ke Nomor Rekening: 1133052100 BNI a.n Farida Utami.

Setelah pesan silahkan konfirmasi pembayaran ke 

WA: 0813-2893-2455

LINK PEMESANAN: KLIK DISINI


Saturday, April 22, 2023

KESAMBI TUA



Selepas sholat Ashar aku langsung menuju pemakaman desa. Saat sholat tadi smartphone berdering lemah. Ternyata ada pesan singkat di aplikasi WA dan juga panggilan suara. "Sekalian cek ke pemakaman bi... sudah selesai belum galian makamnya". Akhirnya aku langsung mengajak si Bungsu untuk ke pemakaman. Lokasinya tidak jauh dari masjid desaku, persis di sebelah barat masjid terbatasi oleh jalan raya.

Sejurus aku melihat belasan orang sedang berada di bawah pohon Kesambi Tua di pojok pemakaman. "Assalamu'alaikum.... apa sudah hampir selesai?" tanyaku ke salah seorang yang sedang duduk sambil makan kacang. "Belum sebentar lagi... inysa Allah jam 4 selesai" jawabnya. Ini artinya masih sekitar setengah jam lebih dari sekarang.

Sebagian besar yang sedang menggali makam adalah teman-teman masa kecil. Tepatnya si kakak kelas, ada yang 2 sampai 4 tahun lebih tua dari aku. Untuk ukuran anak desa seperti aku selisih 2 atau 4 tahun itu ya sering main bersama. Jangan berpikir main bersama itu seperti anak jaman sekarang. Mabar games atau sekedar nongki di tempat ngopi. Kami ngumpul dalam rangka hal positif, angon kambing, cari kayu bakar, cari rumput atau sekedar cari makanan. Nah yang menarik adalah kami kadang nyari buah kesambi di kuburan. Kaget kan?

Kami semua tadi akhirnya nostalgia tentang pohon kesambi yang ada di pemakaman desa kami. Ada sekitar 7 atau 8 pohon kesambi besar yang ada di pemakaman. Ada 2 pohon yang paling besar terletak di tengah makam. Sisanya di pinggiran dan ada juga yang berfungsi sebagai pembatas makam dengan tanah warga.

Aku tidak tau persis umurnya berapa pohon kesambi yang ada ini. Setahuku dari dulu besarnya segitu-gitu aja. Kami pernah mengukur waktu kecil ukuranya tidak kurang dari 3 depa. Kami sering kesulitan untuk dapat naik ke pohon ini. Kenapa kami naik pohon sebesar itu?

Pohon kesambi ini berbuah setahun sekali. Biasanya si saat musim kemarau. Bentuk buahnya hampir sama dengan buah kelengkeng. Memiliki cangkang yang lumayan keras. Berbiji warna coklat gelap sampai dengan hitam. Besarnya sama persis dengan kelengkeng dan juga bergerombol dipucuk-pucuk ranting. Bedanya pada rasa, kalau kelengkeng rasanya manis dan banyak yang berdaging buah tebal. Sedangkan kesambi ini rasanya sedikit masam segar dengan daging buah yang tipis.

Tapi buah ini dulu menjadi favorit kami. Maklum kalau kami metik buah mangga atau rambutan tetangga kami pasti diomelin. Kalau kami metik buah ini ngga ada yang ngomelin. Mau metik berapapun ngga ada yang komplain. Di samping buahnya memang berlimpah, siapa juga yang punya hak atas pohon ini? 

Jadi sudah pasti kalau pohon kesambi ini sedang berbuah, kuburan jadi ramai anak-anak. Dari siang sampai matahari tenggelam kami sering berkumpul setelah ngangon kambing atau main layangan. Beda sekali dengan anak jaman sekarang. Boro-boro berani makan buah dikuburan, lewat aja ngga berani. Akhirnya sekarang pohon kesambi ini semakin rindang menutupi hampir semua pemakaman, sejuk sampai lembab.

Sore ini kesejukan pohon kesambi menjadi saksi tempat beristirahatnya Pak Lik. Usianya memang sudah melebihi almarhum Bapak. Tapi yang pasti Aku punya kenangan yang mungkin ngga bisa terlupa. Pak Lik adalah penolongku ketika hari Sabtu aku pulang dari Purwokerto di akhir pekan. Setelah aku jalan dari alun-alun Jatilawang ke arah Gentawangi biasanya Pak Lik ada di pangkalan becak. Mengetahui aku pulang jalan Pak Lik langsung mengajak untuk naik becaknya. Lumayan perjalanan dari gentawangi ke Purwojati sekitar 4 km akhirnya tidak jadi jalan kaki. Aku nebeng Pak Lik.

Sekarang aku mengantar Pak Lik di peristirahatan terakhir.
Sugeng tindak PakLik... 
Pohon Kesambi ini hanyalah simbol bahwa PakLik akan mendapatkan kesejukan dan ketentraman. Mugi-mugi Gusti Allah paring margi ingkang padang. Sugeng istirahat. 


Purwojati, 1 Syawal 1444 Hijriyah.
Di Bawah Pohon Kesambi



Sunday, January 29, 2023

SEPATU DARIMU



Masih melekat di benak, mulai usia SMP aku sudah sering mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang. Sekedar membantu Bapak 'nukang' saat nge-sub proyek, atau ikut jualan es lilin keliling desa. Atau kadang terbawa teman-teman nguli ikut truck yang muat gula jawa keliling desa di kecamatan Purwojati. Kalau yang ini senengnya dobel, dapat uang dan juga keliling desa naik truck. Maklum ditahun 85an tempatku belum ada angkutan mobil. Semua uang yang aku dapat hampir tidak pernah dipakai sendiri. Kebanyakan tek kasihkan Ibu dengan senang hati dan rasa bangga bisa memberikan uang ke Ibu.

Setelah masuk SMEA beda lagi cara aku mendapatkan receh. Saat SMEA aku sudah bisa naik motor, tentu ngga punya SIM ya. Bagaimana punya SIM, kelas 3 SMEA saja usiaku belum 17 tahun. Karena aku ngekos maka keseharianku tidak bisa mengisi waktu luang dengan mencari uang. Mungkin kalau zaman sekarang bisa ya dengan moda online. Tapi saat itu kegiatanku hanya ke sekolah pagi hari, pulang sore terus belajar di kosan. Maka biasanya setiap hari Minggu pagi aku memanfaatkan motor Bapak yang nganggur untuk ngojek. Bapak biasanya sudah ngojek malam harinya atau persiapan ngojek mulai Minggu sore untuk kemudian hasilnya diberikan ke aku untuk biaya kos selama sepekan ke depan.

Lulus SMEA aku gagal mewujudkan keinginan Bapak untuk melanjutkan ke STIKUBANK. Akhirnya aku terdampar di Jakarta dan tentu saja lanjut nguli. Tadinya melanjutkan ke STIKUBANK dengan berharap mendapat Beasiswa. Orang tuaku ngga bisa membiayai kuliah, maka langkah bijak yang bisa aku lakukan tentu lanjut kerja saja. Tentunya sambil terus berharap bisa melanjutkan kuliah suatu saat nanti dengan biaya sendiri.

"Like Father Like Son" ini rupanya berlaku di kehidupanku. Sebenarnya aku sendiri tidak berharap seperti itu. Aku paham bahwa mencari uang tidak mudah, butuh keterampilan, waktu, dan juga tenaga. Maka aku tidak berharap bahwa anaku mengikuti jejaku ikutan mencari uang. Tetapi aku juga tidak melarang sebab saat sekarang ini kesempatan untuk mencari uang bisa dikatakan lebih mudah, banyak fasilitas dan juga peluang terutama melalui jalur online. Si Sulung ternyata memanfaatkan kemudahan dan fasilitas yang ada untuk menjadi peluang bisnis.

Seingatku sudah beberapa kali dikasih 'modal' meskipun kecil untuk jualan online. Pada akhirnya ternyata beberapa kali uji coba si Sulung mampu merubah modal yang kecil itu menjadi bertambah. Bahkan uangnya pernah dipinjamkan ke kami untuk sebuah kebutuhan. Mungkin justru ini lebih keren dari aku sendiri. Kalau aku dulu ngga bisa nabung atau sampai punya rekening Bank. Anaku punya dan setiap laba yang didapat selalu ditabung.

==============================

Aku, Istri dan si Bungsu dari sore kodangan di tempat teman. Lanjut dengan mampir ke tempat keponakan dan ke pusat perbelanjaan. Belanja akhir bulan, biasanya si kami selalu berempat dengan si Sulung. Tapi tadi malam si Sulung tidak ikut karena dari sore pamitan keluar rumah. Istriku bahkan sempat menggerutu "Dolan nganggo mobil, bensin njaluk biyunge....." Tapi tetep saja si dikasih buat beli bensin.

Nah tadi malam di 28 Januari ini aku sempat kaget. Pulang sudah cukup malam sempat duduk sebentar di depan tivi. Beberapa detik kemudian terdengar suara gerbang terbuka dan si Sulung langsung memarkir mobil ke garasi. Sejurus kemudian anaku masuk ke rumah. "Ini buat Abi...." anaku memberikan bungkusan kotak yang terbungkus goodie bags warna orange. Aku sempat melongo, ada apaan ini anak ngasih bingkisan. Eh yang komentar istriku "Wiiiih.... apaan itu fizh?"

"Sepatu mi.... harganya ngga semahal sepatu Abi... tapi itu bagus lo... warnanya cocok biar Abi tampak lebih muda" jelas si Sulung. Istriku masih komen "Lah.... kamu kan kalau jual sepatu online harganya mahal-mahal... ada yang jutaan.... kok ngga dikasih sepatu kamu aja". Si Sulung cuma tersenyum penuh makna. Aku sendiri langsung membuka bungkusannya dan mencoba sepatu yang dihadiahkan anaku pakai uangnya sendiri.

Terharu juga si nerima hadiah dari si Sulung. Di tengah kesibukannya kuliah mengejar tarket akselerasi S2 nya di masih sempat menyisihkan uangnya untuk dibelikan sepatu. Memang si beberapa waktu yang lalu aku sempat bilang mau beli sepatu. Cuma aku memang kadang kalau ngga bener-bener sreg dengan modelnya biasanya selalu gagal beli, Kali ini karena dibelikan ya mau ngga mau pasti diterima. Bahkan seneng juga bisa menerima hadiah dari anak sendiri. 

Harga dan model tidak penting. Yang paling penting adalah seneng dapat menumbuhkan kepedulian terhadap anggota keluarga yang lain. Meskipun budjet pas-pasan jangan sampai kemudian melalaikan perhatian.

Van harte gefeliciteerd....

Kedungwringin, 29 Januari 2023

Friday, February 11, 2022

KOPI KEMAWI DAN BELAJAR

 


Kemawi adalah sebuah desa di kecamatan Somagede kabupaten Banyumas. Dari Purwokerto kira-kira berjarak sekitar 26 km. Berada di wilayah perbukitan yang indah dengan ketinggian 400 mdpl membuat desa ini memiliki beberapa komoditas unggulan. Hasil perkebunan yang terkenal diantaranya adalah Cengkih, Kapulaga, Kopi dan juga ada gula merah. Kali ini pakwaronline.com akan membahas tentang kopinya tentunya dengan sudut pandang yang berbeda.

Kopi memang selalu menjadi pembahasan yang menarik dalam segala suasana. Kopi selalu dapat mewakili citra diri si penikmat. Tetapi lebih dari pada itu, minuman berwarna hitam yang selalu banyak dicari ini juga menyimpan seribu satu macam pembelajaran. Seperti obrolan saya kemarin dengan sahabat brow Demas. Sahabat saya yang satu ini adalah Penggerak utama di SMK Taman Siswa Purwokerto.

Dari kopi ternyata banyak yang bisa kita ambil pembelajaranya. Proses Roasting Coffee sama dengan proses pembelajaran. Proses roasting adalah proses untuk mengeluarkan air dalam kopi, mengeringkan dan mengembangkan bijinya, mengurangi beratnya sampai dengan memberikan aroma pada si kopi. Kopi diibaratkan murid yang memiliki banyak karakteristik berbeda-beda. Karakteristik ini dihasilkan dari banyak pengaruh seperti ketinggian tempat tanam, jenis tanah, bibit, curah hujan dan masih banyak yang lain.

Sama halnya dengan kopi, muridpun memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Bakat, minat dan gaya belajar murid juga sangat beragam. Gaya belajar murid harus dipahami oleh guru agar guru dapat memberikan treatment yang tepat. Perlakuan inilah yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar murid. 

Ketika kopi dimasak maka akan terjadi reaksi kimia yang menyertai sehingga karakter biji kopi pun berubah. Semakin lama biji kopi itu dimasak, semakin banyak pula bahan kimia yang berubah karakteristiknya. Ketika kopi di-roasting, kopi berubah menjadi kecoklatan warnanya. Biji kopi berwarna lebih gelap menandakan  proses roasting yang lebih lama. Namun bagaimanapun, me-roasting biji kopi bukanlah sederhana. Tidak hanya memasukkannya ke alat pemanggang dan kemudian me-roastingnya. Biji kopi sesungguhnya akan menghasilkan kopi yang berbeda apabila di-roasting dalam suhu yang berbeda meskipun hasil akhirnya berwarna sama, karena teknik me-roasting kopi merupakan suatu seni.

Proses pembelajaran juga merupakan sebuah seni. Seni untuk mematangkan bakat dan kemampuan murid menjadi sebuah performa diri. Bakat dan minat murid yang tidak di-roasting dengan tepat tentu oleh guru maka tidak akan mampu membuatnya berkembang. Bahkan bisa saja terjadi aroma wangi yang mestinya keluar setelah terjadi proses roasting tidak pernah akan tercium dan tersajikan.



Proses roasting akan sangat menentukan cita rasa kopi yang dihasilkan. Sama halnya proses belajar yang dilakukan oleh seorang guru dan murid juga akan menentukan hasil belajar seorang murid. Maka memberikan perlakuan yang tepat kepada murid adalah sebuah keniscayaan.



Setiap guru memiliki cara dan pendekatan tersendiri dalam mengolah murid. Setiap Guru adalah Roaster. Setiap Guru adalah Murid dan setiap Murid adalah Guru.

#cerita_kopi
#seni_kopi
#roasting
#differentiated_learning
#pembelajaran_berdiferensiasi

Monday, November 29, 2021

PIJAT MALIOBORO


Menikmati Jogja dengan segala pernak-perniknya memang tidak akan pernah ada habisnya. Sisi wisatanya selalu ada saja hal-hal baru yang menarik untuk dibahas. Belum lagi munculnya hal-hal baru yang selalu membuat orang ingin kembali menikmati Jogja.

Seperti akhir pekan kemarin aku dan keluarga kembali ke Jogja untuk sebuah keperluan. Memang terlalu nekad merencanakan ke Jogja hanya dalam waktu 3 hari sebelum pemberangkatan. Ketika berusaha mencari tempat menginap melalui jasa operator layanan hotel, tidak ada satupun hotel yang menyisakan kamar kosong. Akhirnya aku dan keluarga tetap saja berangkat dengan rencana mencari tempat menginap on the spot.

Muter-muter hampir 3 jam mencari hotel dengan bolak-balik nanya ke beberapa hotel, semua memberi jawaban "TIDAK ADA KAMAR". Ada beberapa yang kemudian memberikan saran "Kalau malam minggu seperti ini hotel kawasan kota pasti full pak... mending cari home stay aja...." Akhirnya aku mengubah alternatif untuk mencari home stay, tentunya dengan resiko kenyamanan tidak sama dengan hotel, tapi lebih ekonomis.

Nah... mungkin karena dapat home stay yang agak kurang nyaman tempat tidurnya atau memang karena bawa kendaraan sendiri tanpa ada sopir pengganti akhirnya merasakan badan pegel-pegel dan capai. Minggu pagi setelah wisata kuliner kami langsung ke Malioboro untuk mencari jasa pijat yang suka berkeliling sepanjang jalan Malioboro. 

Tahun yang lalu aku masih ingat pijat juga di depan kompleks hotel yang ada di ujung Malioboro. Waktu itu Aku ingat betul namanya Pak Suwarto, dan aku foto juga untuk diposting di FB, tapi ketika aku hubungi nomor teleponya tidak tersambung. Mungkin sudah ganti nomornya.

Dalam keputus-asaan tiba-tiba si Bungsu menunjuk seorang Bapak yang sedang berjalan "Abi... itu ada tukang pijat... itu tuh... ada tulisan yang dipegang...."

Pandanganku beralih ke orang yang ditunjuk oleh si Bungsu. Langsung saja Aku berlari kecil sambil memanggil si Bapak. Beliau membawa satu bungkusan di tangan kiri yang berisi perangkat memijat, dan tangan kanan membawa sebuah tulisan menggunakan kertas yang telah dilaminating berisi info pemijatan.

Akhirnya setelah memastikan harga dan layanan kami mencari tempat untuk duduk dan memijat.





Namanya pak Priyanto aslinya dari Kulonprogo, sudah sangat senior di jasa pijat urut dan refleksi. Memberikan layanan pijat dari pagi hingga malam diseputaran jalan Malioboro. Baliau biasa berkeliling sepanjang jalan Malioboro untuk mencari wisatawan yang butuh jasa pijat dan urut karena kecapaian. Tarifnya tidak mahal hanya Rp. 50.000,- untuk durasi sekitar 60 menit. Memijat fokus pada dua kaki dan juga punggung serta bawah leher. Cocok sekali bagi para wisatawan yang membawa kendaraan sendiri.




Kalau pak Priyanto tidak kelihatan dilokasi maka teman-teman semua dapat menghubungi via telepon atau WA ke nomor: 083898300787 , kalau Pak Pri sedang tidak ada pasien pasti beliau akan segera menghampiri.

Kalau teman-teman berada di hotel seputaran Malioboro dan malas untuk keluar maka beliau juga siap untuk datang ke hotel. Bahkan service di hotel lebih lama sesuai kebutuhan. Tentunya dengan harga yang berbeda dan bisa dinegosiasi  dengan beliau langsung. Rata-rata untuk tarif di hotel minimal Rp. 120.000,- untuk sekali terapis.

Dan yang asyik lagi beliau sangat supel ketika memijat. Kita dapat memperoleh informasi seputar wisata Jogja dan informasi terkini yang bisa menambah wawasan untuk berkeliling Jogja. Ini tentu akan berguna bagi teman-teman yang akan berkeliling di Jogja kembali dalam waktu yang lain.

Sayang sekali ketika kemarin dipijat, tiba-tiba gerimis mengguyur jalan Malioboro. Tapi salut banget buat pak Priyanto yang tetap memberikan layanan memuaskan. Jogja memang istimewa, Jogja selalu membuat ingin kembali. Kembali menikmati Malioboro, kembali menikmati keramahan penghuninya. Terima kasih pak Priyanto.










Friday, November 19, 2021

TABLET ITU DIKEMBALIKAN

 


Hampir dua tahun pandemi ini memang membuat saya jarang mengenal anak-anak didik saya. Selama pandemi sulit sekali dapat mengenal anak lebih dalam. Meskipun ada Google Meet untuk tatap maya dalam pembelajaran, tetapi komunikasi dengan anak tidak semudah tatap muka di kelas. Setelah diberlakukan PTM 50%, intensitas untuk bertemu dengan anak menjadi lebih sering.

Aku mengenalnya tidak sengaja. Siang itu setelah aku mengimami kegiatan sholat dhuhur berjama'ah di masjid sekolah, ada insiden seorang muridku kehilangan smartphone. Aku berusaha mencari tahu kejadian itu dengan segera berlari ke bawah menuruni tangga masjid.

Satu anak laki-laki yang sedang ditanya-tanya temannya nampak menahan tangis. Matanya sembab kemerahan terlihat jelas, beberapa tetes air mata nampak bekas diseka dari wajahnya. Aku langsung bertanya: "Siapa namamu?, Kok bisa hilang HP kamu? Emang ditaruh dimana kok bisa ilang? Ada yang ngliat apa ngga?" Aku memberondong dengan banyak pertanyaan.

Diberondong pertanyaan seperti itu, yang menjawab teman yang berada di sebelahnya. Temannya menceritakan bahwa HPnya Viko ditaruh disaku tas ransel. Saat sholat tas ranselnya ternyata ditinggal diluar masjid dekat dengan pintu masuk. Masjid sekolah sebenarnya terletak di lantai 2, di atas ruang kelas IX-A dan IX-B. Artinya memang masjid tidak diperuntukan untuk umum, namun seringkali ketika sholat dhuhur berjama'ah ada saja warga yang ikut sholat.

Rupanya memang ada orang yang sengaja datang ke Masjid sekolah untuk berpura-pura sholat. Sebelum sholat usai orang tersebut sudah turun dan mengambil barang berharga jama'ah. Dan hari itu Viko menjadi korban orang yang berpura-pura datang ke Masjid untuk sholat, tetapi niat sebenarnya adalah mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Aku langsung mengambil langkah untuk membawa muridku tersebut ke ruang Tata Usaha. Aku panggil rekan pemegang barang untuk dapat diberi pinjaman Tablet. Sekolah memang memiliki banyak Tablet yang diperuntukan untuk pembelajaran. Tablet ini bantuan dari Kemdikbud. Tidak hanya tablet, tetapi semua tablet sudah diberi Kartu Perdana agar dapat langsung terus digunakan.

Aku bilang ke Viko: "Vik... ini kamu dipinjami Tablet sekolah ya... Nanti bicara baik-baik ke orang tua kamu, bahwa HP kamu hilang saat sholat". Viko mengangguk tanda setuju, meskipun mungkin hatinya masih tidak karuan dan ketakutan dimarahi orang tua sebab HPnya memang belum lama dibelikan Ayahnya yang hanya seorang kuli bangunan di Jakarta.

Setelah semua urusan selesai, Aku berpesan lagi ke Viko. "Viko... HP kamu memang hilang pada saat kamu sholat berjama'ah, tetapi hal ini jangan sampai membuat kamu berhenti mengikuti sholat jama'ah dan datang ke Masjid ya... Ini ujian buat kamu untuk melatih kesabaran. Sholat jama'ah itu memang berat ujianya dan kamu harus bersabar." Viko kembali mengangguk.

Aku kemudian meminta bantuan Mas Rijal guru BKnya Viko untuk mengantar pulang. Kebetulan arah pulangnya sama denga rumah Viko. Tetapi ternyata Mas Rijal kemudian mengajak Mas Dio untuk mengantar bareng Viko. 

Setelah kejadian tersebut Aku tidak lagi terlalu memperhatikan Viko. Memang beberapa kali Aku ketemu Viko usai sholat Dhuhur di masjid Sekolah, tetapi hanya menyapa dan tersenyum. Saya hanya berucap syukur dalam hati bahwa Anak ini ternyata tidak surut semangatnya untuk tetap sholat dhuhur berjama'ah sebelum pulang dari sekolah.

=================

Sampai akhirnya hari ini, Aku ketemu dengan Mas Dio yang bercerita bahwa beberapa hari yang lalu bertemu dengan Viko di jalan ketika sedang perjalanan pulang. Aku terus bertanya ke Mas Dio: "Memangnya si Viko ngga dijemput? dulu katanya dijemput saudaranya kalau pulang sekolah."

Kemudian temanku ini menceritakan secara detail tentang Viko. Sudah beberapa pekan ini memang tidak lagi diantar jemput ke sekolah. Paling sering pulangnya jalan kaki dengan teman satu desanya di SMPN 9 Purwokerto. Padahal jarak SMP 2 ke SMP 9 itu lumayan jauh, sepertinya lebih dari 2 km mungkin sampai 3 km. Setelah itu SMP 9 ke desanya Viko juga hampir sama jaraknya. Dan kedua anak itu jalan kaki.

Aku juga dulu jalan kaki waktu SMP, jarak dari rumah ke sekolah saat itu lebih dari 2 km. Tapi era tahun 80 - 90an anak sekolah jalan kaki itu biasa. Kalau era sekarang ini jarang sekali anak yang jalan kaki untuk ke sekolah. Kebanyakan anak sekarang lebih memilih untuk naik ojek online atau minta diantar orang tua.

Aku kemudian bilang ke Mas Dio: "Mas kalau gitu kita belikan sepeda aja buat Viko" Mas Dio tersenyum: "Udah telat Pak War... udah ada yang ngasih Viko sepeda kemarin." Aku kecewa tetapi juga senang sudah ada bantuan untuk Viko agar bisa ke sekolah tidak jalan kaki.

Anak seperti Viko ini langka banget zaman sekarang. Di saat anak lain mendengar adzan berkumandang dan mereka memilih untuk tetap ngobrol ngalor ngidul di kelas atau di selasar sekolah, bahkan ada pula yang asyik nge game. Tetapi Viko tetap mendatangi Masjid untuk sholat berjamaah, meskipun rumahnya jauh dan pulangnya jalan kaki. Sementara yang lain hanya menunggu orang tua menjemput sambil melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat.

Tapi bukan hanya itu kisah tentang Viko. Ada yang lebih menarik dari sekedar semangat dia untuk jalan kaki ke sekolah dengan jarak yang cukup jauh. Ditengah-tengah kekurangan dan keterbatasan fasilitas dari orang tua Viko justru mengembalikan Tablet milik sekolah. Salah satu alasannya adalah takut kalau barangnya rusak dan nantinya tidak bisa mengembalikan. HP satu-satunya milik orang tuanya diberikan ke Viko untuk tetap mengikuti pembelajaran secara online.

Sungguh saat sekarang ini jarang sekali menjumpai orang yang memiliki sifat zuhud dan 'iffah. Apalagi dimiliki oleh seorang anak sekolah. Kebanyakan anak sekarang bahkan tidak peduli apakah orang tuanya mampu atau tidak. Tetapi Viko sosok yang berbeda. Aku sangat yakin bahwa suatu saat Viko akan menjadi orang yang sukses. Anak yang banyak mendapat tempaan pasti akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan sukses. Semoga....

Saturday, May 22, 2021

DIGITAL ASSESSMENT UNTUK GENERASI Z

 


DIGITAL ASSESSMENT UNTUK GENERASI Z
(Sebuah Kodrat Zaman)


A. Latar Belakang

Perbedaan generasi dalam lingkungan pendidikan menjadi salah subyek yang selalu muncul dalam perkembangan peserta didik, dan konsep perbedaan generasi terus berkembang dari waktu ke waktu. Penelitian yang pertama tentang perkembangan nilai–nilai generasi dilakukan oleh Manheim pada tahun 1952, penelitian tersebut didasarkan pada tulisan–tulisan dalam bidang sosiologi tentang generasi pada kisaran tahun 1920 sampai dengan tahun 1930. Mannheim (1952) mengungkapkan bahwa generasi yang lebih muda tidak dapat bersosialisasi dengan sempurna karena adanya gap antara nilai–nilai ideal yang diajarkan oleh generasi yang lebih tua dengan realitas yang dihadapi oleh generasi muda tersebut, lebih lanjut dikatakan bahwa lokasi sosial memiliki efek yang besar terhadap terbentuknya kesadaran individu.

Menurut Manheim (1952) generasi adalah suatu konstruksi sosial dimana didalamnya terdapat sekelompok orang yang memiliki kesamaan umur dan pengalaman historis yang sama. Lebih lanjut Manheim (1952) menjelaskan bahwa individu yang menjadi bagian dari satu generasi, adalah mereka yang memiliki kesamaan tahun lahir dalam rentang waktu 20 tahun dan berada dalam dimensi sosial dan dimensi sejarah yang sama. Definisi tersebut secara spesifik juga dikembangkan oleh Ryder (1965) yang mengatakan bahwa generasi adalah agregat dari sekelompok individu yang mengalami peristiwa–peristiwa yang sama dalam kurun waktu yang sama pula.

Secara garis besar pembagian generasi dibagi menjadi dua bagian utama yaitu Generasi era Perang dan Generasi Pasca Perang. Generasi Perang terdiri dari tiga generasi yaitu: Generasi Perang Klasik, Generasi Perang Dunia I, dan Generasi Perang Dunia II. Sedangkan Generasi Perang sampai dengan sekarang ini dibagi menjadi enam generasi yaitu: (1) Generasi era depresi, (2) Generasi Baby Boomer (3) Generasi X, (4) Generasi Y, (5) Generasi Z, dan (6) Generasi Alpha. Generasi Era Depresi adalah generasi yang didefenisikan sebagai orang-orang yang lahir sebelum dan setelah perang dunia I dan II, yang mengalami depresi atau stress akibat kondisi yang terjadi pada masa tersebut. Generasi Baby Boomer adalah generasi yang lahir pasca perang dunia II, dengan rentang tahun lahir 1946 - 1964. 

Generasi X adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1965 sampai dengan 1980 masehi. Generasi Y adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1981 sampai dengan 1994 masehi. Generasi ini disebut juga dengan sebutan generasi milenial, yang sudah mengenal teknologi seperti komputer, video games, dan smartphone. Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010 masehi. Generasi Z adalah generasi setelah Generasi Y, generasi ini merupakan generasi peralihan Generasi Y dengan teknologi yang semakin berkembang. Beberapa diantaranya merupakan keturunan dari Generasi X dan Y. Generasi Alpha adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 2011 sampai dengan tahun 2024. Generasi yang lahir sesudah Generasi Z. (Wikipedia.org)

Pada bulan Desember 2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan dalam sambutannya mengumumkan bahwa kualitas pendidikan negara sangat buruk yang juga berdampak pada rendahnya biaya sekolah, hasil belajar yang buruk, fasilitas yang tidak lengkap, dan masalah disiplin, oleh karena itu sistem sekolah perlu direvisi. Ia menginformasikan bahwa pendidikan negara berada dalam masa "darurat". Kualitas pendidikan Indonesia tidak banyak mengalami peningkatan meskipun dalam beberapa tahun terakhir Indonesia telah berupaya untuk meningkatkan kebijakan pendidikan serta membuka peluang seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat untuk dapat menyelesaikan pendidikan dasar (Sekolah Dasar (kelas 1 sd 6). dan Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Pertama (kelas 7 sampai 9) dan Sekolah Menengah Atas (kelas 10 sampai 12) dengan menyediakan pendidikan gratis untuk semua masyarakat.

Studi saat ini menemukan bahwa guru dan siswa masih skeptis untuk mengambil bagian dalam kegiatan yang menggunakan teknologi informasi (Reffell & Whitworth, 2002). Pemanfaatan teknologi informasi bagi Guru dan Murid masih tergolong rendah. Apalagi model penilaian digital, sampai saat sekarang ini masih jarang dijumpai. Padahal ketika kita merujuk informasi di atas tentang pembagian generasi, saat sekarang ini pada anak usia SMP rata-rata adalah mereka yang masuk dalam Generasi Z.

Generasi Z disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan Generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka.

Oleh karena itu semestinya Guru yang mendidik Generasi Z harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan kepribadian mereka. Tidak bijaksana ketika justru Guru mengajak murid yang notabene adalah generasi yang terlahir dalam era teknologi modern dibawa ke era lama yang masih minim pemanfaatan teknologi. Termasuk di dalamnya adalah pada bidang penilaian atau assessment. Penilaian saat sekarang ini mestinya harus dirubah semuanya dalam model digital atau yang dikenal dengan Digital Assessment.


B. GENERASI INTERNET

Internet diperkenalkan sejak tahun 1960an, tetapi mulai masuk ke Indonesia secara terbatas sejak tahun 1990an. Sejak saat itu perkembangan internet di Indonesia maupun dunia mengalami perkembangan secara signifikan. Begitu juga teknologi jaringan selular untuk mendukung akses internet, awalnya dari 1G sekarang berkembang menjadi 4G, bahkan satu tahun terakhir ini sudah mulai diperkenalkan teknologi 5G.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Jasa Internet Indonesia (APJI) yang bekerjasama dengan Teknopreneur Indonesia pada tahun 2017 menyatakan bahwa pertumbuhan pengguna internet di Indonesia meningkat pesat. Pengguna internet di Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 132,7 juta jiwa, kemudian di 2017 bertambah menjadi 143,26 juta jiwa atau lebih dari 50% penduduk Indonesia memiliki akses internet.  Dari data tersebut juga disimpulkan bahwa paling banyak pengguna internet di Indonesia adalah mereka yang merupakan Generasi Z. Generasi yang lahir dalam rentang waktu tahun 1995 sampai dengan 2010. Mereka inilah yang disebut generasi digital yaitu generasi yang lahir dimasa teknologi digital berkembang sangat pesat.

Lebih lanjut lagi dari hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis layanan yang paling banyak diakses adalah aplikasi obrolan, media sosial, mesin pencari, lihat gambar atau foto, dan pengunduhan video. Untuk pemanfaatan bidang edukasi paling banyak dimanfaatkan untuk membaca artikel, melihat video tutorial, dan membagikan artikel atau video edukasi.

Kenapa Generasi Z menjadi yang paling banyak dalam menggunakan internet? Sebab sejak generasi ini lahir pada era perkembangan internet berkembang sangat pesat. Generasi ini lahir sudah mulai mengenal media sosial di dunia maya yang berkembang dalam berbagai bentuk. Belum lagi begitu banyak kemudahan yang tidak didapat pada era sebelumnya. Generasi Z begitu mudahnya menikmati musik atau film yang di era Generasi Y didapat sangat sulit dan jarang dijumpai. Sementara sekarang ini dengan adanya Youtube dan banyak platform serupa menawarkan banyak kemudahan yang memanjakan mereka setiap hari bahkan setiap detik. Maka layak Generasi ini menyandang nama Generasi Internet.

C. INTERNET UNTUK PENDIDIKAN

Perkembangan internet telah mengubah banyak sekali pola interaksi masyarakat. Internet memberi kontribusi terhadap masyarakat, perusahaan/industri, pemerintah dan termasuk dalam dunia pendidikan. Hadirnya internet telah menunjang efektivitas dan efisiensi lebih bagi para penggunanya pada semua bidang tersebut. Peranan utama internet selain sebagai sarana komunikasi, publikasi serta alat untuk mendapatkan informasi, saat sekarang ini di era Revolusi Industri 4.0 bertambah sebagai sarana big data dan juga artificial intellegent.

Dalam dunia pendidikan, internet menjadi media yang sangat ideal untuk kegiatan pembelajaran, apalagi pada masa pandemi COVID-19 sekarang ini. Saat sekarang ini hampir semua sekolah menggunakan model pembelajaran jarak jauh bahkan penilaian juga jarak jauh, yang artinya hanya internet yang bisa menghubungkan. Melalui internet, Guru dan Murid dan melakukan pembelajaran sinkrounus menggunakan aplikasi video conference seperti Google Meet, Zoom, Microsoft Teams atau masih banyak platform lain. Selain pembelajaran sinkrounus bisa juga model asinkrounus yaitu dengan memanfaatkan Kelas Maya yang banyak tersedia untuk berdiskusi, membagi materi, memberi dan mengerjakan tugas bahkan juga penilaian.

Pemanfaatan teknologi internet untuk pendidikan di Indonesia secara resmi dimulai sejak dibentuknya telematika tahun 1996. Masih ditahun yang sama dibentuk Asian Internet Interconnections Initiatives. Jaringan yang dikoordinir oleh ITB ini bertujuan untuk pengenalan dan pengembangan teknologi internet untuk pendidikan dan riset, pengembangan backbone internet pendidikan dan riset di kawasan Asia Pasifik. Sampai sekarang ada 21 lembaga pendidikan tinggi (negeri dan swasta), lembaga riset nasional, serta instansi terkait yang telah bergabung.

Meskipun banyak pro dan kontra pada awal penggunaan internet untuk pembelajaran, namun saat sekarang ini di tengah pandemi COVID-19 hampir tidak ada yang bisa menolak. Internet seolah-olah menjadi kebutuhan primer yang setiap orang tidak bisa untuk menghindarinya. Banyak pula prediksi yang mengatakan bahwa dalam dunia pendidikan nantinya ada kombinasi (blended learning) meskipun pandemi sudah berakhir.

D. DIGITAL ASSESSMENT DALAM AKSI NYATA 

Murid SMP Negeri 2 Purwokerto sudah dari 2012an dibolehkan untuk membawa smartphone. Saat itu memang masih menyandang gelar Sekolah RSBI sehingga kebanyakan Muridnya memiliki smartphone yang dapat digunakan untuk pembelajaran. Oleh karena itu sudah seharusnya semua warga sekolah mampu memanfaatkan kondisi Murid yang hampir 80% memiliki smartphone.

Selama masa pandemi COVID-19 ini semua guru SMP Negeri 2 Purwokerto menggunakan akun belajar.id yang diberi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Semua guru dan murid menggunakan akun tersebut untuk bergabung di Google Classroom maupun Google Meet. Hampir semua tugas dan penilaian harian menggunakan Google Form sebagai sarana utama. 

Begitu juga dalam pelaksanaan assessment lainya seperti Penilaian Harian, Penilaian Tengah Semester maupun Penilaian Akhir Tahun. Namun ada usulan dari beberapa rekan agar bisa membuat desain yang sedikit berbeda agar assessment tidak selalu menggunakan Google Classroom akan tetapi tetap menggunakan Google Form. Ini adalah komitmen dari SMP Negeri 2 Purwokerto agar anak-anak dapat belajar sesuai kodrat dan zaman mereka yaitu zaman digital.

Pada akhirnya dari hasil survei yang saya adakan tentang pelaksanaan PAT hampir 95% anak menggunakan Android sebagai sarananya. Sisanya menggunakan IOS dan Windows. Dari survei tersebut kemudian saya memutuskan untuk membuat aplikasi Android sebagai 'pintu' untuk mengikuti Penilaian Akhir Tahun.

Secara umum tampilan antar muka masih sederhana karena dibuat hanya dalam waktu kurang dari 2 pekan. Saya sendiri juga masih harus banyak belajar tentang ilmu desain interface. Alurnya secara singkat adalah sebagai berikut:

1. Murid menginstall aplikasi "PAT DARING" yang dapat didownload melalui Play Store.

2. Membuka aplikasi di Android masing-masing kemudian memasukan username dan password yang dapat diminta kepada Wali Kelas masing-masing.

3. Halaman berikutnya adalah Murid memilih jenjang kelasnya masing-masing.

4. Halaman berikutnya Murid ketika sudah masuk waktunya mengisi rekam suhu yang sudah discan pada waktu datang.

5. Masih di halaman utama kemudian Murid mengisi Daftar Hadir dan menandatanginya melalui aplikasi Zoho Form.

6. Murid mengerjakan soal dengan memilih soal sesuai jadwal.

7. Setelah selesai Murid tinggal mengirim jawabanya.

8. Langkah selanjutnya Murid mengulang untuk Daftar Hadir mata pelajaran berikutnya dan mengerjakan mata pelajaran berikutnya.

9. Terakhir Murid mengisi suhu kepulangan.

Berikut tampilan dari Aplikasi PAT Daring:


LOGO/IKON PAT DARING



HALAMAN LOGIN APLIKASI



HALAMAN PILIH KELAS


HALAMAN UTAMA KELAS 7


HALAMAN UTAMA KELAS 8

Aplikasi di atas adalah aksi nyata dari Penulis yang berusaha agar penilaian yang dilakukan oleh Guru atau Sekolah selalu menyesuiakan dengan kondisi Murid. Murid sekarang adalah generasi Z, yaitu generasi yang lahir dalam era internet sehingga Guru harus pandai untuk menyesuaikan.

E. SIMPULAN

Kebanyakan guru yang aktif mengajar sekarang masuk dalam kategori Generasi Y. Generasi Y memang sebuah generasi yang luar biasa. Mereka yang ada di generasi ini menikmati teknologi manual maupun teknologi digital. Terlahir dalam lompatan generasi yang luar biasa tentu akan selalu mendorong agar terus bisa melakukan inovasi dalam segala bidang.

Tetapi ada juga Guru dari Generasi Y yang masih takut untuk mengimplementasikan teknologi digital dalam pembelajaran. Tidak bijaksana ketika kita dari Generasi Y mengajar Generasi Z terapi kita menarik mereka untuk masuk ke dalam alam generasi Y. Murid-murid semua harus selalu berjalan sesuai zamanya. Ketika mereka lahir dalam generasi internet maka kita harus mengajar mereka dalam dunia mereka, yaitu dunia yang terkait dengan internet.

Salah satu filosofi dasar pembelajaran Ki Hadjar Dewantara adalah Kodrat Zaman. Artinya adalah bahwa setiap anak lahir sesuai zamanya. Guru harus menuntun mereka agar mereka berada di zamanya bahkan mempersiapkan era baru yang lebih baik. Oleh karena itu wajib bagi guru untuk menuntun mereka sesuai dengan zamannya.

Assessment Digital adalah sebuah keniscayaan untuk Generasai Z. Generasi yang lahir di era internet.


#salampakwar

#GuruBergerakInonesiaMaju 


Daftar Pustaka:

Mannheim, K. (1952). The Problem of Generations. Essays on the Sociology of Knowledge, 24(19), 276-322–24.

Ryder, N. B. (1965). The Cohort as a Concept in the Study of Social Change. American Sociological Review, 30(6), 843–861. https://doi.org/10.2307/2090964

Surya Putra, Yanuar. (2016). Theoritical Review : Teori Perbedaan Generasi. Among Makarti Vol.9 No.18.

Pustaka Online:

https://id.wikipedia.org/wiki/Generasi_Z