Showing posts with label CERITAKU. Show all posts
Showing posts with label CERITAKU. Show all posts

Monday, November 10, 2025

QRIS: SEBUAH PERJALANAN SPIRITUAL


Bertugas di tempat yang jauh dari rumah banyak suka dukanya. Hal yang ngga enak ngga usah diceritakan ya...., kita cerita yang enak aja. Apa enaknya? "Jadi nambah saudara, nambah keluarga, nambah pengalaman" itu jawaban template banget ya. Tapi itu bener si. Ada jawaban lain yang enak juga menurut saya yaitu kalau ada tugas dinas rapat di Purwokerto. Kenapa enak? secara rumah di Purwokerto, bisa berangkat siangan, ngga buru-buru, biasanya maksimal jam 5.20 sudah berangkat. Kalau ada tugas dinas bisa berangkat sesuai jam undangan, lebih enak lagi dapat SPPD yang bisa ditukar pertalite + ethanol. 

Nah Jumat yang lalu saya ada undangan mendampingi murid dan rekan guru yang berhasil membimbing dan lolos FTBI sampai di tingkat provinsi. Namanya Rifka, berhasil menjadi juara 1 Nulis dan Membaca Huruf Jawa. Sebuah lomba yang mungkin saat sekarang jarang banget diminati oleh anak SMP, apalagi kelas IX. Kepala Sekolahnya saja sudah lupa huruf jawab ada berapa jumlahnya. Tapi dengan bimbingan guru muda Mukti Manggalih, Rifka berhasil lolos sampai tingkat Provinsi.

Acara penerimaan hadiah berbagai lomba yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas ini berjalan dengan lancar. Tidak ada hal yang istimewa. Semua peserta mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan dan juga piala dari Kepala Dinas Pendidikan. Apresiasi dan juga penguatan diberikan kepada semua murid untuk dapat terus meningkatkan prestasinya. Acara selesai saya lanjut ke Sekolah pangkalan. Jam 13.00 wib saya ada janji dengan Panitia HUT SMP Negeri 1 Gumelar untuk mengadakan rapat dengan alumni. Ini janji saya ke pak Sekdin juga, di hari Ulang Tahun Sekolah akan ada pembentukan IKATAN ALUMNI.

Pukul 10.30 wib saya meluncur pulang dari Dinas Pendidikan. Saya pulang karena berencana membawa mengambil mobil di bengkel yang kemarin saya titipkan untuk di servis. Siang ini servis mobil selesai janji Kang Bengkel. Tadinya kepingin juga naik NMax ke Gumelar, tapi cuaca akhir-akhir ini yang hampir setiap sore hujan memaksa untuk naik mobil. Lebih aman dan juga nyaman tentunya.

Tidak ada 10 menit saya sudah sampai di bengkel tempat saya menservis kendaraan. Setelah basa-basi dan mencoba kendaraan saya langsung pamitan ke Kang Bengkel. Cuaca sangat panas, ini semakin menguatkan dugaan dan keyakinan saya bahwa sore ini pulang dari Gumelar bakalan hujan.

Menyusuri jalanan Purwokerto - Ajibarang di siang hari seperti ini biasa saja. Jalan yang dikenal sebagai jalur yang paling padat keluar Purwokerto. Mungkin karena mengarah ke exit tol Brebes dan ke Jakarta. Belum lagi perbaikan lubang jalan yang hampir setiap hari membuat jalur ini padat merayap. Ini aku nikmati setiap hari sambil mendengarkan radio Linggamas, entah itu murotal ataupun kajian kibar asatidz sunnah Banyumas dan Nasional.

Setelah sampai di Ajibarang, saya mengambil arah ke kiri menuju Gumelar via Kracak. Disini signal radio sudah mulai melemah sehingga mulai banyak noise. Kadang saya terus berpindah ke pemutar mp4, entah itu mendengarkan Iwan Fals atau Saleem Iklim. Tapi ini Jumat.... jadi saya mempertahankan mendengarkan kajian meskipun banyak noise.

Memasuki Cihonje saya melirik jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 wib. Radio Linggamas pun mengabarkan sekarang memasuki saat Sholat Jumat. Orang Paguyangan bilang "wis manjing". Saya belum melihat Masjid yang tepat dan strategis untuk mengikuti sholat Jumat. Saya berpikir biasanya kebanyakan Masjid di wilayah desa berpatokan bahwa mulai Sholat Jumat itu jam 12.00 wib. Saya terus memacu kendaraan sambil mencari masjid yang tepat.

Menurunkan kaca mobil di Cirebah saya mendengar sayup-sayup suara khotbah dari sebuah masjid yang cukup besar. Masjid 2 lantai dengan nama Nurul Iman. Posisinya lumayan mudah dijangkau. Parkiran pun teduh di bawah pohon rambutan. Parkiran yang tepat disaat matahari tepat ada di atas ubun-ubun kepala. Setelah memarkir kendaraan, saya bergegas dengan berlari kecil menuju Masjid.

Masjid besar dengan toilet dan juga tempat wudhu yang nyaman. Setelah mengambil air wudhu, saya langsung masuk ke dalam masjid. Saya agak tertegun... "Kok baru beberapa orang yang hadir ya?" gumam saya dalam hati. Ah... sudah... sholat aja, sudah khotbah... hilang nanti pahala Jumat.

Setelah selesai sholat saya duduk tenang mendengarkan khotbah. Tapi kok aneh... posisi pembicara berdiri di atas mimbar. Mimbarnya naik tangga sekitar 2 meter. Mungkin agar jama'ah yang ada di lantai 2 juga dapat melihat khotib. Tapi bukan ini keanehannya, Khotib gaya bicaranya santai layaknya sedang pengajian biasa. Ngajarin tata cara untuk melakukan sholat sakartul maut, dengan berbagai penjelasan kaifiyahnya. Semestinya seorang Khotib Sholat Jumat gaya bicaranya harus bersemangat. 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ»

An Abi Jabir bin Abdillah qala: Kana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam idza khathaba-hmarrot 'ainahu wa 'ala shautuhu wa-shtadda ghadhabuhu hattaa ka'annahu mundziru jaisyin yaqulu: "Shabbahakum wa massakum".
Terjemahan:
Dari Jabir bin Abdullah RA, dia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya memuncak, seakan-akan beliau adalah panglima perang yang sedang memperingatkan pasukannya (akan datangnya musuh di pagi atau sore hari)."

(Hadis Riwayat Muslim, Kitab Al-Jumu'ah, Bab: Dryarah al-khutbah wa shifatuha).

Dan ini kemudian membuat saya menyangka "Ini kayaknya pengajian sebelum Sholat Jumat". Tapi ini sudah jam 12 lebih. Masa iya si Sholat Jumat belum dimulai, padahal sudah jam 12 lebih. Di saat saya bertanya-tanya dalam hati, tiba-tiba si Pembicara mengajak semua audience untuk membaca Al Fatihah sebanyak 4 kali layaknya acara tahlilan. Dan setelah itu Pembicara langsung menutup dengan salam.

Jegleg..... Benar saja ternyata setelah itu Muadzin langsung mengumandangkan Azan Jumat yang pertama. Ah.... ternyata saya tidak terlambat mengikuti Sholat Jumat. Hanya memilih di masjid yang berbeda dengan biasanya. Ini malah lengkap banyak pahala karena dilengkapi dengan pengajian terlebih dahulu. Cuma... apakah ini sesuai tuntunan Rasul?

Saya pun khusyu mengikuti ritual sholat jumat seperti biasa. Mungkin karena terlalu lama duduk di siang hari membuat perut saya meronta-ronta. Cacing-cacing protes merasa didholimi karena belum mendapat jatah MBS (Makanan Bergizi dan Sehat). Alhamdulillah sholat tidak terlalu panjang. Padahal semestinya yang dipanjangkan adalah Sholatnya bukan Khotbahnya.

Selesai sholat saya berlari kecil menuju kendaraan. Mobil segera aku stater karena badan sudah mulai gemeter. Masih ada 15 menit lagi sebelum waktu Rapat dengan Panitia dan Alumni. 10 menit saya alokasikan untuk makan dan 5 menit untuk perjalanan. Pas.....

Sebelum sampai di sekolah saya mampir ke Rumah Makan Padang. Di samping belum pernah nyoba makan di sini, menurutku ini makan dengan sajian tercepat yang bisa saya lakukan dibandingkan memilih Sate Pak Wasim yang menggoda. Saya langsung memesan Nasi Rendang dan juga Es Teh. Simpel, cepat tapi tetap nikmat.

Sepertinya tidak ada 5 menit saya melahap hidangan nasi rendang. Enak juga si untuk satu porsi nasi rendang lengkap yang berada jauh di luar Purwokerto. Dan selanjutnya tiba saat untuk "bayar bayar" (dibaca dengan nada dari Vlogger Nex Carlos).

Cuci tangan dan mengelap sisa kuah rendang yang nempel di bibir. Selanjutnya mendekat ke si Uda Penjual Nasi Padang. "Berapa Uda?" sambil merogoh dompet dan mengambil dari saku belakang celana. "Enam Belas Ribu pak"... kata si Uda.  "Worth it lah..." dalam hati saya. 

Dan begitu membuka dompet saya kaget. KOSONGGGG ngga ada uang satu rupiahpun. Yang ada Kartu Nama siapa entah... dan juga kartu-kartu pribadi.

Malu? iyalah.... Tapi yang asyik si Uda langsung bilang. "Ada QRIS kok pak" si Uda menunjuk stiker di depanya. Alhamdulillah.... selamat.... tadinya berencana mau ngutang dengan meninggalkan KTP atau sendal jepit yang tek pakai, atau telpon teman guru suruh mbayarin...


#QRIS

#spiritualisme

#nasipadang

#nasirendang 

 
 

Saturday, July 5, 2025

Merangkai Langkah, Menenun Makna: Catatan Awal dari Ruang Kerja Kepala Sekolah



Selalu ada momen hening dalam ruang kerja saya, ketika lembar-lembar perencanaan menumpuk rapi di meja, dan suara pelan anak-anak dari kelas sebelah terdengar seperti nyanyian harapan. Di sanalah saya sering merenung: apa arti sesungguhnya dari “pendidikan bermutu untuk semua”?

Satu bulan terakhir ini, saya belajar kembali bahwa mutu bukan sekadar angka di rapor atau pencapaian indikator. Mutu adalah napas kolektif—usaha bersama antara guru yang tekun menyusun modul ajar, tenaga kependidikan yang setia menjaga ritme harian sekolah, hingga siswa yang terus bertumbuh dalam semesta belajarnya.

Dari menyusun RKS yang lebih partisipatif hingga mendampingi guru melalui supervisi yang lebih humanis dan membimbing—semuanya adalah bagian dari proses yang tidak instan, tapi bermakna. Di setiap kunjungan kelas, saya melihat bukan hanya kurikulum berjalan, tapi juga relasi yang tumbuh: antara guru dan murid, antara nilai dan praktik.

Saya percaya bahwa tugas kepala sekolah hari ini bukan hanya mengelola, tapi juga menghidupkan kembali rasa percaya bahwa setiap aktor di sekolah punya potensi untuk bertumbuh—dan bahwa pendidikan yang bermutu hanya akan tercapai jika kita belajar untuk tumbuh bersama.

Ini baru awal. Tapi saya bersyukur karena langkah kecil ini terasa hangat. Dan semoga dari sini, kita bisa terus merajut ekosistem sekolah yang tidak hanya cerdas, tapi juga peduli, inklusif, dan penuh makna.


📖 Mendampingi, Bukan Mengawasi: Supervisi yang Menumbuhkan


Ada satu hal yang saya pelajari dari bangku panjang di ruang guru: percakapan yang tulus lebih punya daya ubah dibanding seribu lembar instrumen supervisi.


Beberapa waktu lalu, saya duduk berdua dengan seorang guru muda setelah observasi kelas. Bukan untuk menilai, tapi untuk bertanya, “Bagaimana perasaanmu mengajar tadi?” Dari pertanyaan sederhana itu, mengalir cerita: tentang siswa yang sulit fokus, tentang strategi bertanya yang masih perlu dicoba, dan tentang harapan yang belum padam.

Supervisi bukan lagi soal menilai, tapi membimbing. Memberi ruang bagi guru untuk merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Saya belajar menggunakan pendekatan coaching kecil-kecilan: bukan menggurui, tapi bertumbuh bersama. Terkadang, satu sesi obrolan ringan sambil menyeruput kopi di sudut ruang TU bisa jauh lebih bermakna ketimbang rapat formal tiga jam.

Dan ketika saya mulai menyusun penugasan tambahan bagi guru dan tendik, saya memilih untuk memulainya dari satu hal: mendengar. Saya undang mereka duduk bersama, lalu bertanya, “Apa yang membuatmu merasa berdaya?” Ternyata ketika seseorang merasa perannya bermakna, maka pekerjaan pun menjadi bagian dari misi, bukan sekadar rutinitas.


👣 Coaching di Tengah Deru Jam Pelajaran


Suatu hari, saya berdiri di depan kelas, bukan untuk mengajar, tapi untuk menyimak. Seorang guru senior sedang membimbing diskusi kelompok tentang nilai-nilai dalam Pancasila. Saya duduk di bangku paling belakang, mencatat, bukan untuk menilai, tapi untuk belajar.


Setelah bel berbunyi, saya menghampirinya dan berkata, “Keren sekali tadi cara Ibu membuka diskusi… tapi saya penasaran, kalau siswa yang pendiam itu dilibatkan juga, apa yang mungkin terjadi?” Pertanyaan itu memicu percakapan 15 menit yang lebih berharga dari rapor mana pun.

Praktik coaching di kelas bukan soal tahu lebih banyak—tapi soal memantik refleksi. Saya memilih pendekatan dialog: bertanya, mendengar, lalu merancang langkah-langkah kecil bersama. Kadang hanya berupa tantangan ringan, seperti, “Minggu depan, mau coba ubah posisi tempat duduk agar siswa lebih aktif?” Dan minggu depannya, saya datang lagi, menyimak lagi.

Menjadi kepala sekolah berarti punya privilege melihat tumbuhnya perubahan kecil: strategi bertanya yang lebih terbuka, catatan harian guru yang lebih reflektif, hingga kelas-kelas yang mulai menyesuaikan dengan kebutuhan belajar murid, bukan sekadar target kurikulum.

Dan setiap perubahan itu, sekecil apa pun, selalu saya dokumentasikan. Bukan untuk laporan formal semata, tapi sebagai pengingat bahwa perubahan sejati lahir dari relasi. Dari obrolan-obrolan santai di ruang kelas, dari tawa ringan selepas coaching, dari rasa saling percaya bahwa kita semua, guru dan kepala sekolah, sedang sama-sama belajar.


🌿 Belajar Kembali Menjadi Pembelajar: Refleksi Kepemimpinan


Saya menyadari satu hal belakangan ini—bahwa di balik semua lembar RKS, SK, dan laporan supervisi, saya adalah seorang murid juga. Murid dari situasi. Murid dari suara guru yang berbisik pelan, “Saya butuh waktu untuk belajar ini.” Murid dari anak-anak yang tatapannya menunggu ruang kelas yang lebih ramah.


Saat menyusun learning plan pribadi, saya mencoba jujur dengan diri sendiri: bagian mana dari kepemimpinan saya yang masih kaku? Di mana saya terlalu administratif? Kapan saya lupa bahwa pemimpin belajar harus mau dibimbing, sebelum membimbing?

Mengikuti pelatihan, membaca refleksi kepala sekolah lain, dan berdiskusi di Komunitas Guru Belajar membuka mata saya: menjadi pemimpin pembelajaran berarti hadir—secara utuh. Bukan hanya saat rapat penting, tetapi juga saat guru sedang frustrasi memilih strategi diferensiasi. Hadir secara utuh berarti tidak takut berkata, “Saya belum tahu, mari kita cari tahu bersama.”

Dan dari situ saya mulai menulis ulang makna keberhasilan. Dulu keberhasilan berarti angka meningkat. Kini keberhasilan berarti: ada guru yang tersenyum karena merasa didampingi, ada siswa yang pulang dengan cerita bahwa gurunya mendengarkan dia hari ini, atau ada tendik yang merasa pekerjaannya dihargai bukan hanya sebagai pelengkap.

Saya kira, menjadi kepala sekolah yang berdampak bukan tentang “menyelesaikan tugas.” Tapi tentang menciptakan ruang. Ruang untuk bertumbuh. Ruang untuk saling percaya. Ruang untuk belajar seumur hidup.


📌 Penutup: Kita Semua Sedang Belajar


Saya tidak tahu apakah saya sudah menjadi kepala sekolah yang “sempurna”—tapi saya tahu, setiap hari saya berusaha menjadi lebih hadir.


Hadir untuk guru yang ingin didengar. Untuk murid yang ingin dimengerti. Untuk setiap lembar perencanaan yang sejatinya bukan hanya soal angka, tapi tentang harapan.

Menjadi pemimpin pembelajaran bukan tentang menjadi yang paling tahu. Tapi tentang menjadi yang paling mau: mau mendengar, mau berubah, mau tumbuh, dan mau berjalan bersama.

Dan saya percaya—dari ruang kelas kecil di desa sampai lorong-lorong sekolah di kota, kita semua sedang belajar: saling menemani, saling mengingatkan, dan saling mempercayai bahwa sekolah bukanlah tempat untuk sempurna, melainkan ruang untuk menjadi manusia yang terus bertumbuh.

Semoga catatan kecil ini bisa jadi pengingat, bahwa kita tidak sendiri. Bahwa langkah-langkah kecil yang kita pilih hari ini, bisa jadi cahaya bagi banyak masa depan yang kini tengah duduk di bangku kelas, menggenggam mimpi-mimpinya.


Tuesday, May 13, 2025

EVOLUSI KEBIASAAN MAKAN SOP


Masa kecil selalu dipenuhi dengan kebiasaan yang terasa begitu biasa, tapi ternyata menyimpan makna yang mendalam ketika dikenang kembali. Salah satu rutinitas yang masih jelas dalam ingatanku adalah bagaimana Ibu selalu menyiapkan sop sebagai bagian utama dari setiap santapan. Namun, bukan seperti yang sering kulihat di restoran atau rumah makan. Di rumah, setiap ibu masak sop selalu bilang "Ayo tuang sopnya langsung ke nasi ya! biar seger..."

Bagi Ibu, tujuan dari mencampur sop dengan nasi bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi juga strategi agar aku makan lebih lahap. Dengan kuah yang meresap ke nasi dan rasa gurih dari lauk yang berpadu sempurna, tidak ada alasan untuk menolak suapan demi suapan. “Biar cepat gemuk,” kata Ibu dengan senyum khasnya setiap kali melihatku menikmati makanan dengan lahap.

Saat itu, tidak ada pilihan lain. Aku terbiasa dengan konsep bahwa sop adalah bagian dari makanan utama, bukan sajian yang dinikmati terpisah. Rasa ayam yang bercampur dengan sayuran, gurihnya kuah yang mengalir memenuhi nasi, dan bahkan potongan kentang yang terasa lebih lembut ketika melebur dengan semua unsur lainnya—semuanya menjadi satu dalam harmoni piring makan masa kecilku.

Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini berubah perlahan tanpa disadari. Kini, ketika menyantap sop, aku lebih memilih untuk menuangkannya dalam mangkuk terpisah. Alasannya sederhana: ingin lebih menikmati keotentikan rasa dari setiap bahan yang ada di dalamnya.

Ada kepuasan tersendiri dalam menyendok kuah panas yang murni tanpa bercampur dengan nasi. Setiap potongan daging, sayur, dan kentang memiliki rasa dan tekstur yang lebih jelas. Bahkan, aku mulai menyadari bahwa setiap jenis sop memiliki karakteristik tersendiri, ada yang lebih ringan dan segar, ada yang lebih pekat dan kaya rempah.

Selain itu, di usia 50 tahun, pola makan menjadi bagian yang lebih diperhatikan. Dulu, ketika masih kecil, tujuan makan adalah untuk tumbuh sehat dan berenergi. Tapi kini, keseimbangan asupan makanan menjadi pertimbangan utama. Mengurangi konsumsi nasi atau karbohidrat berlebih menjadi salah satu cara untuk menjaga berat badan agar tidak mudah naik. Dengan memisahkan sop dari nasi, aku bisa lebih mengontrol jumlah karbohidrat yang dikonsumsi tanpa kehilangan kenikmatan dari setiap sendokan kuah yang kaya rasa.

Membiasakan diri makan dengan pola yang lebih seimbang juga membuatku lebih sadar akan rasa dan tekstur makanan. Sop yang dulu hanya dianggap sebagai pelengkap nasi kini punya tempat tersendiri dalam sajian, memberikan kesempatan bagi lidah untuk benar-benar merasakan tiap bahan yang dimasak dengan penuh perhatian.

Meski begitu, kenangan tentang Ibu dan piring sop yang penuh masih tetap tersimpan hangat. Kadang, ketika kembali ke rumah, aku menemukan diriku kembali ke kebiasaan lama—mencampur sop dengan nasi seperti dulu. Bukan karena ingin kembali ke masa kecil, tetapi karena ingin menghidupkan kembali kehangatan dari setiap suapan yang pernah menjadi bagian dari cinta seorang Ibu.

Dan mungkin, dalam setiap perubahan cara makan, ada cerita dan makna yang lebih dalam dari sekadar piring dan mangkuk.

Bagaimana kebiasaan makan sopmu? Apakah kamu masih mencampurnya dengan nasi, atau sudah beralih menikmati kuahnya secara terpisah? 😉



Wednesday, January 22, 2025

TANDA TANGAN SULTAN

 

Namanya Sultanzain Antaresmarfiditya Agung. Sekarang berada di kelas VIII-I, sebenarnya saya belum pernah ngajar di kelasnya. Bahkan dari kelas VII. Tapi saya dan Sultan cukup dekat dan akrab. Salah satunya karena Sultan ini termasuk anak yang sangat rajin ke Masjid. Meskipun dia pernah salah sangka dikira saya ngajar Pendidikan Agama Islam. Mungkin karena berjenggot.

Sultan terkenal paling supel dengan semua guru. Tidak hanya supel tapi selalu berani tampil. Entah kalau dibidang akademik, saya tidak tau persis sebab belum pernah jadi guru mapelnya. Keberanian untuk tampil dan juga menyapa guru ini yang membuat Sultan terkenal di mata guru. Meskipun berani tapi tetap menjaga sopan santun.

Selasa, 21 Januari kemarin kami mendapat kunjungan dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Bapak Prof. Atip Latipulhayat, SH., LL.M., Ph.D. berkenan mengunjungi SMP Negeri 2 Purwokerto dalam lawatan kunjungan beliau di Banyumas. Acara di SMP Negeri 2 Purwokerto adalah untuk Senam bersama anak, yaitu Senam Anak Indonesia Hebat. 

Ada yang menarik dari Sultan berhubungan dengan kunjungan Pak Wamen. Pagi hari saat saya melakukan checking persiapan panggung, Sultan mendekati saya dengan membawa buku pendamping Pendidikan Pancasila. Sambil membuka buku halaman paling depan Sultan ngomong "Nanti saya mau minta tanda tangan pak Wakil Menteri boleh ngga ya pak?"

Sedikit kaget saya nanya balik "Kamu tau ngga di halaman itu ada nama siapa?"

Sambil memperhatikan kembali halaman pertama buku yang Sultan pegang kembali anak itu berteriak kecil "Oh iya ada nama pak Waryanto ternyata...."

Saya cuma tersenyum. "Kalau gitu saya minta tanda tangan pak Waryanto ya" lanjut Sultan sambil menyodorkan buku ke Saya. Kemudian saya bubuhkan tanda tangan di dekat nama Saya yang tercantum dalam buku.

Kemudian saya melanjutkan aktivitas untuk mempersiapkan kehadiran pak Wamen di Sekolah. Menyiapkan panggung, menyusun acara dan berkoordinasi dengan pihak protokol Wakil Menteri untuk memastikan urutan kegiatan sesuai dengan ketentuan protokol. Sampai akhirnya saya kemudian memandu kunjungan pak Wakil Menteri dimana kegiatan utamanya adalah Senam Anak Indonesia Hebat bersama beliau dan rombongan.

Setelah acara senam selesai dilanjut dengan sedikit sambutan dan motivasi dari pak Wamen kepada semua Siswa yang mengikuti kegiatan bersama. Dimeriahkan juga dengan pertanyaan berhadiah dari pak Wamen kepada Siswa. Setelah selesai acara tersebut kemudian saya mempersilahkan Rombongan pak Wamen untuk turun dari panggung dan akan melanjutkan kunjungan berikut ke SMA Negeri 1 Purwokerto.

Nah yang mengejutkan sebelum sampai keluar lapangan rombongan pak Wamen dihentikan oleh Sultan yang ternyata meminta tanda tangan pak Wamen. Saya kaget, tapi karena posisi lumayan jauh dan masih mengkondisikan peserta senam saya tidak bisa mendekat. Alhamdulillah permintaan Sultan dipenuhi oleh pak Wamen. Bahkan kemudian pak Wamen sempat juga ngobrol dengan beberapa anak yang lain.


Dalam hati saya bergumam, Saya beberapa kali menyusun urutan acara hari ini dan beberapa kali mengalami perubahan karena tidak ada izin dari protokol. Dan saya takut untuk protes atau meminta dipenuhi meskipun sedikit saja usulan dari saya. Saya takut pihak protokol marah, saya takut nanti begini... nanti jadi begitu... banyak banget pertimbangan saya.

Tapi beda dengan Sultan. Punya tekad yang kuat untuk dapat meraih apa yang diinginkan tanpa berpikir beban yang lain. 

Dari sini bisa diambil pelajaran bahwa saat kita punya keinginan yang kuat maka lakukan saja... selama hal yang kita inginkan baik dan tidak merugikan orang lain maka lakukanlah...

Semoga masih banyak Sultan lain disana yang tidak hanya memperjuangkan sebuah tanda tangan namun cita-cita lain yang baik dan berdampak. Bukan tentang Tanda Tangan yang Sultan dapat, tapi ini tentang kebulatan tekad.

Sunday, January 28, 2024

SEGAYUNG SUSU

 


"Ayuh maring nggonku Yan..." ajak sahabatku sambil beranjak keluar Kelas.

"Arep ngapa si..." jawabku. "Mengko sore ngarit karo sisan meres susu sapi nang kandang" jawab Sobirin. Tanpa berlama-lama akupun mengiyakan ajakan sahabatku ini. Sobirin adalah salah satu sahabat masa SMEA. Dia salah satu yang paling mengerti kondisiku. Anak kost yang setiap akhir pekan harus pulang karena uang saku pas-pasan kalau tidak mau dikatakan kurang.

Kami berdua keluar dari pelataran SMEA Negeri Purwokerto. Menaiki sepeda motor "Binter Joi" berwarna hitam, melenggang di jalan protokol Purwokerto menuju Karanggude. Rumah sahabatku ini berjarak kira-kira 10 km dari sekolah. Sebuah desa di Kecamatan Karanglewas. Desa di pinggiran kota Purwokerto yang memiliki banyak peternak Sapi Perah.

Seingatku kami selesai sekolah itu jam 13.00 wib. Nggak kayak sekarang yang anak sekolah pulang sudah sore, bahkan sore banget. Era 90an kami begitu menikmati masa-masa sekolah yang memang menyenangkan. Kami menikmati masa perubahan dari mesin analog ke digital. Kami di SMEA belajar mesin ketik dengan metode 10 jari, mata kami ditutup. Tapi kami juga belajar komputer era Under DOS. Pakai disket besar dan kecil yang ketika membuka file gambar muncul di layar patah-patah layaknya mozaik.

Sesampainya di Karanggude kami disambut Ibu. Usianya perkiraanku selisih sekitar 10 - 15 tahun dengan ibuku. "Eh kie Waryanto ya... wis madang urung Yan?" tanya Ibunya Sobirin. "Dereng Yung.... hehehehe..." jawabku malu. "Ya kae madang nang mburi karo Birin" lanjut Ibu sahabatku ini.

Selanjutnya kami ke dapur untuk makan siang. Bagiku sebagai anak kost ini merupakan anugerah. Makan enak... ngga keluar duit... enak lah pokoknya. Apalagi terbayang sore dan besok pagi bisa menikmati susu sapi yang original. Diperas langsung dari Sapi perah milik sahabatku ini. Perbaikan gizi tentunya. Kondisi dimana dirumahpun aku tidak pernah minum susu asli seperti ini.

Sebenarnya sosok Ibu atau aku biasa menyebutnya "biyung" ini memiliki postur hampir sama dengan Nenekku. Bertubuh langsung, tidak terlalu tinggi tetapi sangat cekatan dalam bekerja. Dan tentunya 'grapyak' alias ramah tamah ciri khas orang Banyumas. Tulus ikhlas memberi meski aku hanya tamu tapi tidak dibedakan dengan anaknya sendiri, ini yang membuat jadi berasa dirumah sendiri.

"Ngasar dhisit kae Rin... Yan... ngko gari maring kandang sapi!" suara biyunge nyuruh kami berdua untuk sholat. Tempatnya ngga jauh sebab keluarga Sobirin memiliki "Langgar" atau Mushola di depan rumahnya. Enak ngga perlu jauh-jauh mencari tempat sholat.

Selesai sholat kami berdua lanjut ke kandang sapi. Sobirin mengenakan sepatu boots dan membawa sabit dan juga beberapa peralatan lain. Aku membantu membawa ember yang nantinya dipakai untuk menampung susu Sapi. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Ada di seberang jalan depan rumah dan dibatasi lahan hijau yang ditanami rumput gajah sepakai pakan sapi.

Ada 4 sapi dalam satu kandang yang diberi sekat dengan ukuran sekitar 2,5 meter persegi per sapi. Hal yang dilakukan pertama oleh Sobirin adalah memandikan sapi dan membersihkan kandang dari kotoran sapi yang lumayan banyak. Kotoran sapi itu langsung diarahkan ke tempat pembuangan kotoran yang nantinya diolah menjadi bio gas.

Setelah selesai membersihkan kandang, lanjut dengan memeras susu Sapi. Ini butuh teknik tersendiri dan skill. Susu sapi dibersihkan, benar-benar bersih agar susu tidak terkontaminasi kotoran. Selanjutnya diberi minyak, konon agar sapi merasa nyaman. Emang kalau tidak nyaman gimana? susunya ngga bisa keluar. Bahkan kalau pekerjaan ini digantikan orang barupun, susu yang keluar akan menurun kuantitasnya.

Nah selanjutnya setelah selesai kami kembali ke rumah. Kami berdua kemudian mengemas susu untuk diantar ke Pabrik Milba yang lokasinya tidak jauh dari Balai Desa Karanggude. Sebelumnya biyunge mengambil 1 gayung susu untuk dimasak. "Mau pakai gula jawa apa murni Yan?" tanya biyunge. "Ngagem gula jawa mawon ben dados Susu Coklat Yung" jawabku.

Kami kemudian berdua naik Binter Joi untuk mengantar susu ke Pabrik. Sekalian jalan sore. Susu kemudian diperiksa kualitasnya. Kalau terlalu banyak mengandung air biasanya ditolak. Setelah selesai kami pulang. Dan di rumah biyunge sudah menyediakan 2 gelas susu berwarna coklat. Hangat, manis dan segar. Sama seperti biyunge yang selalu menyambut hangat anak-anaknya. Melayani dengan sepenuh hati. Tidak pilih kasih dan tentunya tanpa pamrih.

Hari ini Ahad, 28 Januari 2024 biyunge dipanggil Allah. Dan aku tau ternyata sudah dikebumikan. Aku belum sempat melihat kembali setelah lama tidak ketemu. Maafkan anakmu yung... belum sempat bertemu lagi... Sungguh aku bersaksi biyunge orang baik... tulus... Swargi langgeng kagem biyunge...

===

Karanggude, 16 Rajab 1445 H

Anakmu...



Wednesday, July 5, 2023

PRE ORDER "JURNAL RASA" MENGASAH MUTIARA 8 PENJURU


Buku ini berisi kumpulan cerita dan puisi yang berisi pesan-pesan positif dan menginspirasi. Tidak hanya itu, dalam buku ini berisi cerita yang penuh perjuangan para penulis untuk menjadi Guru Penggerak. Buku ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi rekan guru yang akan mengikuti Program Guru Penggerak dan dapat meningkatkan minat baca dan literasi.


Apa saja isi buku ini?

Buku ini ditulis kolaborasi antara Pengajar Praktik dan Calon Guru Penggerak dari Kelas 07.053.A2 

Masing-masing memiliki gaya penulisan sendiri yang tentunya menjadi magnet untuk dibaca semua kalangan.

Berikut Daftar Isi dari "Jurnal Rasa":

MENGASAH MUTIARA 8 PENJURU

Karya: Waryanto

CATATAN KECIL PERJALANANKU SEBAGAI CALON GURU PENGGERAK (sebuah refleksi)

Karya: Daryoto

CERITA DIBALIK “DONE” WARNA HIJAU 

Karya: Dini Suswantari

NEKAT JADI MANFAAT

Karya: Farida Utami

CATATAN SEORANG GURU

Karya: Kusriyati

ANTARA AKU, VE, DAN CGP

Karya: Mika Widia Astridani

DITIPU EKSPEKTASI

Karya: Nur Cahyati

MENJADI GURU KEHIDUPAN

Karya: Ricci Alfera Nur Hikmah

HATI-HATI DI JALAN

Karya: Tessari Inayah


Nah tunggu apalagi... ayo pesan buku ini!!!

Silahkan pesan hanya Rp. 35.000,- (belum ongkir)

Pembayaran melalui transfer ke Nomor Rekening: 1133052100 BNI a.n Farida Utami.

Setelah pesan silahkan konfirmasi pembayaran ke 

WA: 0813-2893-2455

LINK PEMESANAN: KLIK DISINI